Sepakbola Indonesia kini sedang memasuki babak baru, diawali dengan konflik yang cukup panjang antara pengurus PSSI dengan sang ketua umum Nurdin Halid yang selalu mengatasnamakan statuta baik itu statuta PSSI maupun statuta FIFA dengan pemerintah yang dalam hal ini diwakili secara langsung oleh Menpora Andi Malarangeng.
Berliku, penuh intrik dan cenderung dipolitisasi begitulah wajah sepakbola Indonesia masa kini, pertentangan demi pertentangan, polemik yang tiada henti di media massa dan televisi, saling menjatuhkan antar satu dengan yang lain yang kesemuanya merasa dirinya paling benar dan mempunyai dasar pemikiran yang berbeda-beda, yang puncaknya terjadi di kongres di Pekan Baru beberapa waktu yang lalu, akan tetapi kini perjalanan panjang tersebut sedikit menemukan titik terang (semoga) dengan adanya keputusan dari FIFA untuk membentuk sebuah komite yang dinamakan komite normalisasi yang bertugas untuk menormalkan situasi dan kondisi persepakbolaan di negeri ini sekaligus sebagai pemangku kepentingan yang diberi wewenang untuk menyelenggarakan kongres PSSI berikutnya.
Dalam hal ini kita cukup berbesar hati dengan adanya keputusan dari FIFA tersebut, sebagai organisasi tertinggi sepakbola dunia FIFA telah mengambil keputusan yang cukup tepat dan strategis dan berupaya untuk mengakomodir semua pihak di Indonesia. Langkah pemerintah yang tidak lagi mengakui kepengurusan PSSI di bawah pimpinan Nurdin Halid telah diakomodir oleh FIFA dengan membentuk sebuah komite yang dinamakan komite normalisasi, pengajuan calon ketua umum PSSI dari eksternal PSSI yaitu Jendral George Toisutta dan Arifin Panigoro juga dimentahkan oleh FIFA bersamaan dengan pengajuan calon ketua umum dari internal PSSI yaitu Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie dalam hal ini FIFA mengakomodir kepentingan dari keputusan Komite Banding PSSI sebelumnya yang juga menolak keempat nama untuk dijadikan calon ketua umum PSSI berikutnya, kemudian keputusan FIFA yang secepatnya mengintruksikan kepada komite normalisasi untuk menyeleseikan persoalan kompetisi Liga Primer Indonesia apakah berada di luar atau berada di dalam naungan PSSI juga sejalan dengan keinginan PSSI pimpinan Nurdin Halid yang juga tidak mengakui keberadaan LPI dan kita patut bersyukur bahwa komposisi ketua dan anggota komite normalisasi juga terdiri dari berbagai kelompok yang terlibat seperti internal pembina PSSI yaitu Agum Gumelar, para ketua pengurus daerah PSSI, internal pengurus PSSI dan lembaga LPI.
Kita berharap kinerja Komite normalisasi dapat berjalan secara optimal dan tanpa tendensi untuk memihak pihak atau kelompok manapun, wewenang penuh yang diberikan oleh FIFA selayaknya harus mendapatkan dukungan yang positif dari penggiat sepakbola dalam negeri, energi yang tercurah selama ini seharusnya di apresiasi oleh komite normalisasi dengan mengambil keputusan yang juga tepat dan tidak merupakan keputusan sesaat yang dapat melahirkan polemik dan konflik baru lagi. Sejalan dengan harapan tersebut, akan lebih akurat, kredibel dan tepat apabila komite normalisasi juga mendengar aspirasi dari para pihak-pihak yang selama ini terabaikan tetapi menjadi elemen penting sebuah pertandingan sepakbola yaitu para supporter, aksi demonstrasi beberapa waktu yang lalu semoga juga menjadi catatan penting dan input bagi komite normalisasi untuk mengambil keputusan yang produktif dalam arti tidak menciderai aspirasi murni dari para supporter yang menginginkan perubahan sepakbola di negeri ini.
Selanjutnya, sangat tepat apabila semua pihak dapat menahan diri untuk tidak mengungkapkan pernyataan-pernyataan yang dapat menimbulkan persepsi dan argumentasi yang beragam di tengah masyarakat dalam situasi transisi sepakbola negeri ini, kita dukung upaya dan tindakan dari komite normalisasi untuk menjalankan tugas dan tanggungjawabnya hingga tuntas demi perubahan sepakbola Indonesia.
Demi merah putih dan garuda, mari kita mulai babak baru sepakbola Indonesia untuk kembali berprestasi di tingkat Asia tenggara, Asia dan Dunia.
Salam perubahan.
Berliku, penuh intrik dan cenderung dipolitisasi begitulah wajah sepakbola Indonesia masa kini, pertentangan demi pertentangan, polemik yang tiada henti di media massa dan televisi, saling menjatuhkan antar satu dengan yang lain yang kesemuanya merasa dirinya paling benar dan mempunyai dasar pemikiran yang berbeda-beda, yang puncaknya terjadi di kongres di Pekan Baru beberapa waktu yang lalu, akan tetapi kini perjalanan panjang tersebut sedikit menemukan titik terang (semoga) dengan adanya keputusan dari FIFA untuk membentuk sebuah komite yang dinamakan komite normalisasi yang bertugas untuk menormalkan situasi dan kondisi persepakbolaan di negeri ini sekaligus sebagai pemangku kepentingan yang diberi wewenang untuk menyelenggarakan kongres PSSI berikutnya.
Dalam hal ini kita cukup berbesar hati dengan adanya keputusan dari FIFA tersebut, sebagai organisasi tertinggi sepakbola dunia FIFA telah mengambil keputusan yang cukup tepat dan strategis dan berupaya untuk mengakomodir semua pihak di Indonesia. Langkah pemerintah yang tidak lagi mengakui kepengurusan PSSI di bawah pimpinan Nurdin Halid telah diakomodir oleh FIFA dengan membentuk sebuah komite yang dinamakan komite normalisasi, pengajuan calon ketua umum PSSI dari eksternal PSSI yaitu Jendral George Toisutta dan Arifin Panigoro juga dimentahkan oleh FIFA bersamaan dengan pengajuan calon ketua umum dari internal PSSI yaitu Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie dalam hal ini FIFA mengakomodir kepentingan dari keputusan Komite Banding PSSI sebelumnya yang juga menolak keempat nama untuk dijadikan calon ketua umum PSSI berikutnya, kemudian keputusan FIFA yang secepatnya mengintruksikan kepada komite normalisasi untuk menyeleseikan persoalan kompetisi Liga Primer Indonesia apakah berada di luar atau berada di dalam naungan PSSI juga sejalan dengan keinginan PSSI pimpinan Nurdin Halid yang juga tidak mengakui keberadaan LPI dan kita patut bersyukur bahwa komposisi ketua dan anggota komite normalisasi juga terdiri dari berbagai kelompok yang terlibat seperti internal pembina PSSI yaitu Agum Gumelar, para ketua pengurus daerah PSSI, internal pengurus PSSI dan lembaga LPI.
Kita berharap kinerja Komite normalisasi dapat berjalan secara optimal dan tanpa tendensi untuk memihak pihak atau kelompok manapun, wewenang penuh yang diberikan oleh FIFA selayaknya harus mendapatkan dukungan yang positif dari penggiat sepakbola dalam negeri, energi yang tercurah selama ini seharusnya di apresiasi oleh komite normalisasi dengan mengambil keputusan yang juga tepat dan tidak merupakan keputusan sesaat yang dapat melahirkan polemik dan konflik baru lagi. Sejalan dengan harapan tersebut, akan lebih akurat, kredibel dan tepat apabila komite normalisasi juga mendengar aspirasi dari para pihak-pihak yang selama ini terabaikan tetapi menjadi elemen penting sebuah pertandingan sepakbola yaitu para supporter, aksi demonstrasi beberapa waktu yang lalu semoga juga menjadi catatan penting dan input bagi komite normalisasi untuk mengambil keputusan yang produktif dalam arti tidak menciderai aspirasi murni dari para supporter yang menginginkan perubahan sepakbola di negeri ini.
Selanjutnya, sangat tepat apabila semua pihak dapat menahan diri untuk tidak mengungkapkan pernyataan-pernyataan yang dapat menimbulkan persepsi dan argumentasi yang beragam di tengah masyarakat dalam situasi transisi sepakbola negeri ini, kita dukung upaya dan tindakan dari komite normalisasi untuk menjalankan tugas dan tanggungjawabnya hingga tuntas demi perubahan sepakbola Indonesia.
Demi merah putih dan garuda, mari kita mulai babak baru sepakbola Indonesia untuk kembali berprestasi di tingkat Asia tenggara, Asia dan Dunia.
Salam perubahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar