Ahmad Broer

Selasa, 14 Desember 2010

Industri air minum dalam kemasan mengeringkan sawah dan sumur masyarakat

Tahukah Anda kalau air kemasan yang Anda minum merusak lingkungan dan menyebabkan mata air kering?
Di Cidahu dan Cicurug, Sukabumi Jawa Barat, debit air menyusut, sehingga sawah dan sumur warga kering.
Ini semua lantaran eksploitasi sumber air yang berlebihan oleh sejumlah perusahaan air minum dalam kemasan.
Reporter KBR68H Irvan Imamsyah mengajak Anda melihat dampak penguasaan dan penyedotan air terhadap kehidupan warga Cidahu dan Cicurug.

Nama Desa Babakan Pari bisa Anda jumpai di bungkus botol air minum dalam kemasan merk Aqua Danone. Sumber airnya dari Mata Air Kubang, yang hanya bisa dijangkau setelah menyusuri jalan tanah panjang dan sempit di lahan berbukit. Di sepanjang jalan, tujuh bocoran mata air dan satu kolam terlihat kering. Ini ulah produsen air minum dalam kemasan seperti Alto dan Aqua Danone yang mengebor sumur air dalam. Tempat ini dulu biasa dipakai warga untuk keperluan mandi-cuci-kakus."

Wawan, petani Kampung di Desa Babakan Pari.

“Dulu debit airnya gede. Kurang lebih pipa seukuran tiga inch. Kalau sekarang makin lama kering seperti ini. Sekarang sudah gak bisa dipakai? Sudah gak ada keadaannya sudah begini. Paling gede di sini. Terutama disitu, mandi di sana. Khan di sana dibikin empang mau nyuci mau apa. Ada tempat cuci dan mandi.”

Di desa ini mata air sudah dikapling-kapling. Selain oleh perusahaan Aqua Danone, juga oleh Alto dan 2Tang.

“Saat ini saya berada di sumber mata air desa Babakan Pari yang dimiliki oleh Aqua Danone. Saat ini saya tak bisa masuk kedalam karena kawasan seluas lima hektar ini ditembok beton dengan kawat berduri diatasnya. Jadi masyarakat tak bisa mengakses sumber air bersih yang ada didalam setelah dikuasai oleh Aqua Danone. Dari sumber inilah berbagai produk air minum kemasan yang Anda konsumsi setiap hari berasal.”

Di balik tembok beton, tampak Mata Air Kubang dan tiga sumur bor air dijaga ketat oleh tiga satpam.

Kedalaman air di kolam Mata Air Kubang sendiri surut, tinggal setinggi betis orang dewasa.

Penyedotan air secara berlebihan oleh perusahaan air minum dalam kemasan di desa Babakan Pari ini berdampak luas. Petani Wawan bercerita, air sumur warga kini surut.

“Sekarang dari sumur, dulu paling delapan meter – tujuh meter air gak pernah kekurangan. Sekarang maah 12 meter aja kering. Kecuali kalau musim hujan ada. Kalau kemarau gak ketolongan lagi.”

Dari 32 hektar sawah yang ada di desa ini, sekitar 15 petak sawah terpaksa bergantung pada air hujan. Karena sawah terlanjur kering, sawah pun disulap jadi kebun singkong dan kacang tanah. Karena penghasilan hanya dari kebun, keuangan keluarga ikut-ikutan seret.

Puluhan sumber mata air di Cidahu dan Cicurug kini dikuasai oleh produsen air minum dalam kemasan. Uyeh yang juga petani menyesal telah menjual sawah dan mata airnya kepada PT Aqua Danone.

“Untung yaa untung, padahal akibatnya disedot. Gak tahu bakal kering. Kalau tahu bakal kering? Moal..moal dijual.”

Dari puluhan perusahaan yang ada di Cidahu dan Cicurug Sukabumi, yang paling banyak menyedot air tanah adalah perusahaan Air Minum Dalam Kemasan, AMDK. Di antaranya ada Aqua Danone, Alto, 2 Tang, Prim-A, Vit, Equil, dan juga Ades.

Sebanyak 15 perusahaan AMDK menyedot air permukaan atau mata air, sementara ada 13 perusahaan yang menyedot air tanah dalam dengan pompa-pompa besar. Perusahaan-perusahaan itu kini berebut potensi 34 juta meter kubik air per tahun di Cekungan Sukabumi.

Arif Miharja adalah pendamping warga dari Lembaga Studi Pembangunan dan Pelayanan Teknologi, ELSPPAT. Kata dia, pada tahun 2007-2008, nilai perolehan air dari dua anak usaha PT Aqua Danone mencapai tiga miliar rupiah per bulan. Ini diperoleh dengan menyedot air sebanyak 1,5 miliar liter air per bulan, untuk kemudian dikemas dalam bentuk botol dan galon.

“Berdasarkan data nilai perolehan air dinas pertambangan dan energi. Aqua perbulan nilai perolehan airnya, atau harga jual air di pasaran mencapai 1–3 miliar rupiah perbulan. Kalau dibandingkan dengan nilai ekonomi yang diberikan kepada masyarakat dalam bentuk bantuan, seperti bantuan mesjid, anak yatim dan bantuan itu tak menyentuh langsung dan menyelesaikan persoalan masyarakat.“

Menurut Arif, Aqua memang berada dalam radar pengawasan yang ketat, karena menurut penelitian ELSPPAT, separuh sumber air yang ada di sana dieksploitasi oleh dua anak perusahaan Aqua; yaitu PT Aqua Golden Misssisipi dan PT Tirta Investama.

Sebetulnya, ada kewajiban berbagi air dengan warga, seiring diperbolehkannya perusahaan menyedot miliaran liter air per bulan. Kewajiban itu tertuang dalam Perda Nomor 22 Tahun 2006. Isinya, 10 persen dari total volume air yang digunakan setiap hari untuk kebutuhan industri harus disediakan untuk warga.

Bupati Sukabumi Sukma Wijaya.

“Oleh karenanya perda kita mengharuskan sepuluh persen mereka harus membagi air mereka ke masayarakat melalui keran-keran umum, menyalurkan ke tempat yang lebih tinggi dari pada itu. Sehingga rakyat bisa menikmati air itu. Ada berapa perusahaan yang bandel yang belum laksanakan Perda itu? Yaa secara kuantitatif saya belum dapat jelaskan. Tapi ada beberapa yang sering dikeluhkan saya tak etis menyebut perusahaan mananya. Dan itu selalu kita tindaklanjuti dengan menyampaikan kepada yang bersangkutan untuk segera dipenuhi. Kita tak akan segan-segan memberlakukan sanksi kepada perusahaan yang tak mengindahkan peraturan tersebut.”

Salah satu perusahaan yang menyedot air di sana adalah Aqua. Hampir separuh dari volume sumber air yang ada di Cidahu dikuasai oleh perusahaan ini. Juru Bicara Aqua Danone Troy Pantouw mengklaim, Aqua tak bandel dan sudah melaksanakan aturan Perda soal berbagi air dengan warga.

“Kita lakukan program pemipaan. Kita salurkan air ke masyarakat dan ada bak penampungan air supaya masyarakat mendapatkan air bersih. Bisa dibuktikan sampai kuartal satu 2009, program kami sudah menjangkau 700 kepala keluarga. Itu artinya ribuan orang sudah mendapatkan manfaat dari program air bersih. Itu akan berlanjut terus.“

Cerita berbeda datang dari Wawan, petani di Kampung Kuta, Desa Babakan Pari, Cidahu, Sukabumi. Kewajiban lain bagi perusahaan air minum adalah menyediakan fasilitas bagi warga sekitar, di antaranya fasilitas MCK. Sayangnya, kata Wawan, sarana MCK buatan PT Aqua Danone tak bisa digunakan. Letaknya persis di samping tembok sumber Mata Air Kubang.

Kini kondisi air sumur dan irigasi warga di Kampung Kuta, Babakan Pari, tetap surut dan kering. Penyebabnya adalah pengeboran air tanah, kata Arif.

“Biarpun belum ada penelitian khusus mengenai hal itu. Paling tidak dampaknya bisa dibedakan zaman dulu dan sekarang. Dulu misalnya masyarakat tak mengalami kekeringan pas musim kemarau. Tapi sejak adanya Aqua, ini terjadi dimana-mana. Salah satunya Kampung Kuta dan Kampung Pasir Dalam disebelahnya.”

PT Aqua Danone menyangkal tudingan tersebut. Juru bicara perusahaan Troy Pantouw, mengatakan pengeboran air tanah dalam tak berpengaruh pada air sumur warga dan irigasi.

Pemerintah Kabupaten Sukabumi pun tampaknya sealiran dengan argumentasi perusahaan, ketimbang melihat krisis air warga sebagai suatu persoalan bersama. Bupati Sukabumi Sukma Wijaya menjamin, penyedotan air tanah dalam tak mengganggu pasokan air untuk warga.

“Apakah tadi persoalan kekurangan air itu, nyata disebabkan pengambilan air oleh perusahaan. Tak begitu jelas. Tak begitu meyakinkan. Misalnya sumur rakyat kering, secara teoritis tak ada hubungan. Antara keringnya sumur masyarakat yang dalamnya mungkin hanya tak lebih 30 meter...ya 10 meter atau paling dalam 15 meter. Dibandingkan pengambilan air yang mencapai lebih dari seratus meter. Secara teoritis tak ada hubungannya itu.”

Troy Pantouw dari Aqua Danone justru balik menuding perilaku warga yang tak ramah lingkungan, sehingga sumur dan irigasi kering.

“Misalnya, ada pertanian irigasi pengambilan air, penebangan pohon dan pembangunan pemukiman yang tak terencana. Tak melihat daya dukung dari daerah. Naah kekeringan juga banyak faktor, banyak pihak yang harus pelihara sumber daya air yang seharusnya memelihara sumber daya air tak melakukan itu. Naah Aqua tak seperti itu.”

Kini warga yang merasakan akibatnya. Uyeh menyesal telah menjual tanah tempat mata air berada, yang kini dikapling dan dipagar tinggi. Sementara Wawan hanya punya kenangan soal debit air yang besar di kampungnya. 


sumber Asia Calling

Tidak ada komentar:

Posting Komentar