Ahmad Broer

Senin, 12 November 2012

perang bintang-bintang di Pilkada Jabar (sebuah analisa dan inspirasi kopi htam)

Trend aktor, artis dan aktivis-aktivis dari berbagai bidang untuk mencalonkan diri baik sebagai bupati dan gubernur di berbagai daerah di Indonesia kini sedang marak terjadi di Indonesia, Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat yang sebentar lagi akan digelar adalah salah satu contoh daerah yang disemarakan oleh kehadiran tokoh-tokoh yang mempunyai latar belakang berbeda yang akan memperebutkan kursi gubernur Jawa Barat, nama-nama Dedi Mizwar, Rieke Dyah Pitaloka, Teten Masduki dan Dede Yusuf adalah nama-nama yang bagi publik tentu sudah tidak asing lagi. 

Lalu bagaimana peluang terpilih nama-nama tersebut untuk dapat memenangkan Pilkada Jabar? tentunya masih menunggu perkembangan berikutnya, karena politik bersifat dinamis dan tidak bisa diprediksi sesaat dan jangka pendek serta beragamnya faktor dan alasan yang menyertainya. disini penulis akan secara singkat mencoba menganalisa dari dua faktor yaitu populer dan elektabilitas.

Dalam konteks populer nama-nama tersebut sudah teruji, siapa yang tidak mengenal dedi mizwar? seorang aktor kawakan dari tahun 1980an yang masih eksis bermain film, karya Dedi Mizwar dengan Para Pencari Tuhan yang tayang setiap bulan ramadhan begitu fenomanel dan kaya dengan pesan-pesan religius, nama berikut adalah rieke dyah pitaloka yang terkenal dengan keluguan dan kepintarannya sebagai oneng dalam sinetron bazay bajuri, kemudian dede Yusuf atau mas boy yang saat ini menjadi wakil gubernur Jawa Barat dan teten masduki, seorang aktivis hukum Indonesia Coruption Watch. 

Sekarang bagaimana dengan faktor elektabilitasnya? kita ketahui bahwa elektabilitas adalah faktor keterpilihan, faktor elektabilitas menjadi faktor yang sangat penting karena seseorang yang populer di mata publik belum tentu memiliki elektabilitas atau belum tentu publik untuk memilihnya karena calon tersebut dianggap kurang mampu apabila memanage suatu bidang, pertanyaan berikutnya adalah apakah para aktor dan artis tersebut mempunyai kemampuan merumuskan dan memutuskan kebijakan dalam soal pemerintahan dan kemasyarakatan? tentunya harus ada parameter tertentu untuk mengukurnya misalnya dengan melakukan pertanyaan kepada responden dalam sebuah sampling terukur, rasional dan merata sesuai dengan kriteria klasifikasinya serta metode random/acak. nama-nama diatas sudah tentu populer namun belum tentu memiliki elektabilitas.  

Apabila motif maju sebagai calon dijadikan sebagai pertanyaan, tentu para aktor, artis dan tokoh tersebut secara idealis akan menjawab mengabdi pada masyarakat, sebuah jawaban yang secara kasat mata perlu dipertanyakan karena terkait dengan motivasi tentu bisa bermacam-macam jawabannya seperti syahwat berkuasa dan mencari kekayaan misalnya. semisal syah-syah saja aktivis hukum Teten Masduki menjawab bahwa motifnya adalah memberantas korupsi karena latar belakang Teten Masduki adalah aktivis hukum dari ICW, jawaban yang sangat bisa diperdebatkan tentunya. 

Perang "bintang-bintang" di Pilkada Jabar akan sangat ditentukan oleh kemampuan persuasif para calon pada saat kampanye nanti dan kemampuan menaikan elektabilitasnya. Kemampuan persuasif yang tepat untuk membuat masyarakat Jawa Barat yang berlatar belakang dan dikuasi etnis sunda tertarik untuk memilihnya dan kemampuan bahwa masyarakat yakin elektabilitas calon layak dan mampu terpilih.  Apabila kepopuleran sudah menjadi sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan, sekarang tinggal bagaimana elektabilitas para calon untuk meyakinkan masyarakat Jabar bahwa dari bintang-bintang yang akan bersaing nanti layak untuk dipilih menjadi satu bintang. 

paparan di atas hanyalah sebuah analisa subjektif, pendek dan tidak terukur, layaknya inspirasi kopi hitam di sore hari yang harus dinikmati dan diminum pelan-pelan menunggu petang semakin gelap.  
readmore »»