Ahmad Broer

Selasa, 21 Desember 2010

Apa itu SISTEM PENDIDIKAN MATAPALA



Sebelum jauh bicara tentang macam-macam hal, sekarang kita bahas lebih dulu mengenai definisi dan makna kata-kata tertentu.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga tahun 2005 SISTEM PENDIDIKAN berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (hal. 263).


Sedangkan MATAPALA, seperti yang kita tahu bersama, adalah sebuah organisasi kegiatan mahasiswa STIA Maulana Yusuf Banten yang bergerak di bidang kepencintaalaman. MTPL berdiri pada tahun 1996, dan sekarang ini merupakan organisasi pencinta alam di tingkat perguruan tinggi. Bidang kegiatan MTPL antara lain adalah petualangan di alam bebas (mendaki gunung, mountainering (panjat dinding/tebing), dan lingkungan.


Jadi secara lengkap arti kata SISTEM PENDIDIKAN MATAPALA adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang melalui upaya pengajaran dan pelatihan yang sesuai dengan visi-misi MTPL agar dapat melakukan kegiatan kepencintaalaman secara aman, dewasa, sampai di tujuan, gembira dan penuh dengan suasana kekeluargaan.


Apa tahapan di dalam sistem pendidikan MTPL?
Sistem pendidikan MG dapat dibagi menjadi ke dalam tiga tahapan secara garis besar antara lain:
1. Pendidikan dasar ruangan (DIKLAT ruangan)
2. Pendidikan dasar lapangan (DIKLAT LAPANGAN)
3. Masa Bimbingan
4. Sidang Kenaikan Jenjang Keanggotaan


Apa yang dimaksud dengan PENDIDIKAN DASAR RUANGAN?
Pendidikan dasar di MTPL diawali dengan pendidikan dasar yang dilakukan di ruangan dengan model pembelajaran materi kelas dan praktek. Tujuan DIKLAT ruangan adalah memberi pengetahuan dan ketrampilan dasar dalam melakukan kegiatan kepencintaalaman dengan tetap memperhatikan prosedur keselamatan yang dilakukan secara berkesinambungan. Pada materi kelas diajarkan mengenai Ke-organisasi-an, manajemen perjalanan, mountaineering, climbing, lingkungan, SAR/P3K dan survival.  Bagi para peserta MTPL yang mengikuti sampai finish kemudian diterima untuk selanjutnya berlanjut ke DIKLAT Lapangan.

Apa yang dimaksud dengan PENDIDIKAN LAPANGAN MATAPALA?
Pada tahap ini semua calon anggota muda (CAM) diberangkat menuju sebuah lokasi yang sudah ditentukan untuk memperdalam materi yang telah didapat sebelumnya untuk dipraktekkan di lapangan. Tujuannya adalah melakukan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan para Calon Anggota Muda agar dapat semakin mampu dan mandiri secara perorangan dan kerjasama tim dalam kegiatan kepencintaalaman. Pada Diklat Lapangan ada kurikulum, materi dan kegiatan lapangan dengan agenda dan jadwal yang ketat dan merupakan pendalaman dari materi kelas dan ada penambahan materi-materi baru. Bila seluruh rangkaian kegiatan dalam DIKLAT LAPANGAN  ini dapat diselesaikan, maka mereka akan mendapat penghargaan sebagai Anggota (Penuh) MTPL.

Apa yang dimaksud dengan Masa Bimbingan/pengembaraan
Dalam masa bimbingan anggota muda MTPL melakukan perjalanan2 kecil dan diterapkan prinsip2 ekspedisi seperti usaha dana, manajemen perjalanan, kegiatan di lapangan sampai kepada pelaporan kegiatan. perjalanan2 kecil tersebut di bagi menjadi tiga bagian perjalanan dan didaimpingi oleh mentor yang diambil dari pengurus aktif, adapun perjalanan MABIM di bagi menjadi tiga yaitu MABIM navigasi, survival dan mountaineering dengan tetap memperhatikan prinsip2 perjalanan. Sebuah perjalanan membutuhkan manajemen yang kompleks dan kerjasama tim yang tangguh dan terpadu. Sebuah perjalanan tetap merupakan buah dari sistem pendidikan MG secara keseluruhan.


Apa yang dimaksud dengan Sidang Kenaikan Jenjang Keanggotaan
Dalam sidang KJK para anggota muda mempertanggungjawabkan seluruh rangkaian tiga perjalanan yang telah dilakukan dengan terlebih dahulu membuat sebuah proposal dan mempertanggungjawabkan laporan kegiatan masa bimbingan yang telah dilakukan. apabila rangkaian ini telah selesei maka anggota muda tersebut berhak untuk mendapatkan syal biru sebagai anggota penuh.


Penutup
Demikianlah sedikit pembicaraan mengenai SISTEM PENDIDIKAN MATAPALA. Terima kasih.
readmore »»  

Sejarah Pendakian Gunung dan Panjat Tebing

1492
Sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m), di kawasan Vercors Massif. Tak jelas benar tujuan mereka, tetapi yang jelas, sampai beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di Pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois, sejenis kambing gunung. Jadi mereka memanjat karena dipaksa oleh mata pencaharian, kurang lebih mirip para pengunduh sarang burung walet gua di tebing-tebing Kalimantan Timur atau Karang Bolong, Jawa Tengah.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1623
Yan Carstensz adalah orang Eropa pertama yang melihat "..... pegunungan yang sangat tinggi, di beberapa tempat tertutup salju !" di pedalaman Irian. Salju itu sangat dekat ke khatulistiwa. Laporannya tak dipercaya di Eropa, padahal belum lama berselang diberitakan ada juga salju di Pegunungan Andes dekat khatulistiwa.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1624
Masih berkaitan dengan pekerjaan juga, pastor-pastor Jesuit merupakan orang-orang Eropa pertama yang melintasi Pegunungan Himalaya, tepatnya Mana Pass (pass = pelana/punggungan yang terentang antara dua puncak), dan Garhwal di India ke kawasan Tibet 
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1760
Profesor de Saussure agaknya begitu jatuh cinta pada Mont Blanc di perbatasan Perancis-Italia, sehingga dia menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat menemukan lintasan ke puncaknya, untuk penyelidikan ilmiah yang diimpikannya. Sayang tak ada yang tertarik, terutama karena keder terhadap naga-naga yang konon mbaurekso di puncak gunung tertinggi di Eropa Barat itu.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1786
Setelah beberapa percobaan gagal, Puncak Mont Blanc (4807 m) digapai manusia. Mereka adalah Dr.Michel-Gabriel Paccard dan seorang pandu gunung, Jacques Balmat. Puncak tertinggi di Alpen yang didaki sebelumnya adalah Lysjoch (4153m), tahun 1778.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1830
Alexander Gardiner melintasi Pelana Karakoram dari Sinkiang di Cina ke wilayah Kashmir di India.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1852
Ahli-ahli ukur tanah di India berhasil menentukan ketinggian Puncak XV, 8840 meter. Berarti puncak tertinggi di dunia, mengalahkan Puncak VIII (Kangchenjunga, 8598 m) yang sebelumnya dianggap paling tinggi. Puncak XV itu lalu diberi nama Everest (padahal aslinya orang Nepal menyebutnya Sagarmatha, atau Chomolungma kata orang Tibet ). Belakangan ketinggiannya dikoreksi, 8888 meter, lalu dikoreksi lagi menjadi 8848 meter, sampai sekarang.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1854
Batu pertama Zaman Keemasan dunia pendakian di Alpen, diletakkan oleh Alfred
Wills dalam pendakiannya ke Puncak Wetterhom (3708 m), cikal bakal pendakian
gunung sebagai olah raga.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1857
Alpine Club yang pertama berdiri, di Inggris.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1858
Ketinggian K2 (singkatan Karakoram nomer 2) terukur, 8610 meter, menggeser lagi kedudukan Kangchenjunga menjadi juara tiga.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1865
Dinding selatan Mont Blanc dipanjat untuk pertama kali lewat lintasan Old Brenva, menandai lahirnya panjat es (ice climbing). Sementara itu di Alpen bagian tengah, Edward Whymper dan enam rekannya berhasil menggapai Puncak Matterhorn (4474 m)di Swiss. Tetapi 4 anggota tim, yang saling terikat dalam satu tali, tewas dalam perjalanan turun, ketika salah seorang terpeleset jatuh dan menyeret yang lain. Musibah ini mengakhiri 11 tahun Zaman Keemasan. Tak urung lebih dari 180 puncak besar telah didaki dalam masa itu, sedikitnya satu kali, dan lebih dari setengahnya oleh orang-orang Inggris.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1874
WA Coolidge mendaki Puncak Jungfrau dan Wetterhorn di musim dingin, sehingga digelari Bapak Winter Climbing. Pada tahun 1870-an ini muncul trend baru, pendakian tanpa pemandu, yang segera menjadi ukuran kebanggaan di antara pendaki.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1878
Regu yang dipimpin Clinton Dent berhasil memanjat Aiguille du Dru di Perancis, memicu trend baru lagi, yaitu pemanjatan tebing-tebing yang tak seberapa tinggi namun curam dan sulit.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1883
WW Graham menjadi orang Eropa pertama yang mengunjungi Pegunungan Himalaya dengan tujuan mendaki gunung sebagai olahraga dan petualangan. Dia mendaki beberapa puncak rendah di kawasan Nanda Devi dan Sikkim India, bahkan konon berhasil mencapai Puncak Changabang (6864 m).
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1895
Percobaan pertama mendaki gunung berketinggian di atas 8000 meter, Nanga Parbat (8125 m), oleh AF Mummery. Orang Inggris yang sering disebut Bapak Pendakian Gunung Modern ini hilang pada ketinggian sekitar 6000 meter.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1899
Ekspedisi Belanda pembuat peta di Irian menemukan kebenaran laporan Yan Carstensz, yang dibuat hampir 3 abad sebelumnya. Maka namanya diabadikan di situ.

--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1902
Percobaan pertama mendaki K2, oleh ekspedisi dari Inggris.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1907
Ekspedisi di bawah Tom Longstaff mendaki Trisul (7120 m), puncak 7000-an yang pertama. Longstaff adalah orang pertama yang mencoba penggunaan tabung oksigen dalam pendakian.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1909
Ekspedisi Persatuan Ahli Burung dari Inggris (BPUE) memasuki rawa-rawa sebelah selatan kawasan Carstensz. Dalam 16 bulan mereka kehilangan 16 orang anggota mati dan 120 sakit.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1910
Karabiner buat pertama kali dipakai dalam pendakian gunung, diperkenalkan oleh pemanjat-pemanjat dari Munich, Jerman Barat, diilhami oleh penggunaannya dalam pasukan pemadam kebakaran.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1912
Eks anggota ekspedisi BPUE 1090, Dr.AFR Wallaston, kembali ke Irian bersama C.Bodden Kloss, dengan 224 kuli pengangkut barang dan serdadu. Tiga jiwa melayang.

--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1921
George L.Mallory dkk. berhasil sampai di North Col Everest dalam perjalanan penjajagan mereka dari sisi Tibet .
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1922
Usaha pertama mendaki Everest berakhir pada ketinggian 8320 meter di punggungan timur laut.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1924
Mallory dan Irvine yang kembali mencoba Everest, hilang pada ketinggian sekitar 8400 meter. Rekannya, Edward Norton, mencapai 8570 meter, rekor waktu itu, sendirian dan tanpa bantuan tabung oksigen.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1931
Schmid bersaudara mencapai Puncak Matterhorn lewat dinding utara, sekaligus melahirkan demam North Wall Climbing. Peningkatan taraf hidup di Inggris dan Eropa daratan pada umumnya, menimbulkan perubahan pola penduduk kota melewatkan waktu luangnya, menyebabkan populernya panjat tebing.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1932
Grivel memperkenalkan cakar es (crampoon) model 12 gigi, yang karena efektifnya tetap disukai hingga kini.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1933
Comici dari Italia memanjat overhang dinding utara Cima Grande Lavredo di kawasan Dolomite, Alpen Timur, menandai aid climbing yang pertama. Sekitar tahun ini pula sol sepatu Vibram ditermukan oleh Vitale Bramini.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1936
Dr.A.H.Colijn, manajer umum perusahaan minyak Belanda dekat Sorong, dan geolog DrJ.J.Dozy, menemukan bijih tembaga di kawasan dinding timur Gletser Moriane, tak jauh dari kawasan Carstensz, Irian.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1937
Bill Murray mengubah tongkat pendaki yang panjang menjadi kapak es, menandai
lahirnya panjat es modern.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1938
Dinding utara Eiger di Swiss akhirnya berhasil dipanjat, oleh tim gabungan Jerman Barat dan Austria, yang oleh Hitler diiming-imingi dengan medali emas olympiade. Dinding maut ini sebelumnya telah menelan cukup banyak korban, dan berlanjut hingga kini. .
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1941
Ekspedisi Archbold 'menemukan' Lembah Baliem, kantung suku Dani dengan tingkat kebudayaan yang amat tinggi, di tengah belantara yang seolah tak berbatas dan tak tertembus. Irian kian jadi perhatian ilmuwan-ilmuwan dunia.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1949
Nepal membuka perbatasannya bagi orang luar.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1950
Tibet dicaplok Cina. Pendakian Himalaya dari sisi ini tak diperkenankan lagi. Maurice Herzog memimpin ekspedisi Perancis mendaki Annapurna (8091m), puncak 8000-an yang pertama, menandai awal 20 tahun Zaman Keemasan pendakian di Himalaya. Di Alpen, tali nilon mulai dipergunakan. Sebelumnya, tali serat tumbuhan hampir tak memiliki kelenturan, sehingga ada 'hukum' bahwa seorang leader tak boleh jatuh, sebab hampir pasti pinggangnya patah tersentak. Pakaian bulu angsa mulai membuat malam-malam di bivouac lebih nyaman.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1951
Don Whillan menemukan pasangannya, Joe Brown, duet pemanjat terkuat yang pemah dimiliki Inggris. Panjat bebas (free climbing) gaya Inggris menjadi tolok ukur dunia panjat tebing. Walter Bonatti dkk. menyelesaikan dinding timur Grand Capucin, awal aid climbing pada tebing yang masuk kategori big wall. Bermula di Inggris, terjadi Revolusi Padas. Tebing batu gamping ternyata tak serapuh yang selama itu disangka. Tebing-tebing granit dan batuan beku lainnya mendapat saingan.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1952
Herman Buhl solo di dinding timur laut Piz Badile di Swiss, dalam waktu 4 ½ jam. Inilah nenek moyang speed climbing. Rekor waktu pada rute tersebut, yang dibuat tahun 1937, 52 jam!
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1953
Herman Buhl dkk. menggapai Puncak Nanga Parbat (8125 m), puncak 8000-an kedua yang didaki orang. Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris, menjadi manusia-manusia pertama yang berdiri di puncak atap dunia, Everest.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1954
Ekspedisi Inggris sukses di Kangchenjunga, ekspedisi Perancis sukses di Makalu (8463 m). Di Alpen, Don Whillan dan Joe Brown mencatat dinding Barat Aiguille du Dru dalam 2 hari, rekor lagi.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1955
Walter Bonatti solo pilar barat daya du Dru 6 hari.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1956
Ekspedisi Jepang berhasil mendaki Manaslu (8163 m). Jepang segera menjadi salah satu negara besar dalam dunia pendakian di Himalaya .
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1957
Herman Buhl dan tim Austria mencapai Puncak Broad Peak (8047 m), sekaligus mematok pendakian pertama gunung 8000-an dengan alpine tactic.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1958
Lapangan terbang perintis dibuka pada beberapa lokasi di Irian, membangkitkan semangat para pendaki gunung untuk menjajal Carstensz, sang perawan salju di khatulistiwa.

--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1960
Claudio Barbier dari Belgia solo ketiga dinding utara di Tre Cima Laverdo dalam 1 hari. Pertama kali speed climbing menggunakan teknik gabungan free dan aid climbing.
Helm mulai sering digunakan para pemanjat tebing. Harness menjadi wajib, menyusul kematian seorang pemanjat Inggris di Dolomite. Harness pertama yang diproduksi massal dan dijual untuk umum terbuat dari webbing, merek Tankey.
Tebing 48 Citatah mulai digunakan sebagai ajang latihan bagi pasukan Angkatan Darat kita.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1961
Ekspedisi dari Selandia Baru coba mendaki Carstensz Pyramide tapi mengalami kegagalan sebab keterlambatan dukungan logistik lewat jembatan udara.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1962
Puncak Cerstensz Pyramide akhirnya berhasil digapai oteh tim Heinrich Heiner. Juga Puncak Eidenburg didekatnya, oleh ekspedisi yang dipimpin oleh Phillip Temple. Awal pemakaian baut tebing di Alpen; Tebing pantai mulai diminati. Pemanjat Amerika Serikat mulai bicara di Alpen, diawali Hemmings dan Robbins yang menciptakan lintasan super sulit di dinding barat du Dru.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1963
Tim gabungan Inggris-AS memanjat dinding selatan Aiguille du Fou, hardest technical climbing di Alpen waktu ilu, dengan teknik-teknik aid climbing gaya AS. Kode etik dalam panjat tebing mulai banyak diperdebatkan di rumah-rumah minum. Pemanjatan solo pertama Eiger Nordwand, oleh Michel Darbellay, dalam satu hari.
Bonatti dan Zapelli menyantap mix climbing (ice dan rock) tersulit di Alpen, dinding utara Grand Pilier d'Angle di Mont Blanc . Seorang ahli gletser yang baru kembali dari Antartika berusaha mendaratkan pesawat terbangnya di di Puncak Jaya, dekat Carstensz. Untung angin kencang mengurungkan niatnya, sebab salju tebal di sana terlalu lunak sebagai landas pacu. Tapi buntutnya, dua pesawat DC 3 kandas di lereng utara dan selatannya, pada ketinggian sekitar 4300 meter.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1964
Ekspedisi Cina berhasil mendaki Shisha Pangma (8046 m)di Tibet, satu-satunya puncak 8000-an yang terletak diluar Nepal dan Pakistan (Karakoram). Beberapa pendaki Jepang serta 3 orang ABRI, Fred Athaboe, Sudarto dan Sugirin, yang tergabung dalam Ekspedisi Cendrawasih, berhasil mencapai Puncak Carstensz (4884m) di Irian. Dua perkumpulan pendaki gunung tertua lahir, Mapala Ul di Jakarta dan Wanadri di Bandung. Tahun ini dianggap awal sejarah pendakian gunung di Indonesia.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1965
Seratus tahun pendakian pertama Matterhorn diperingati dengan peliputan pendakian Hornli dkk. Oleh BBC/TV sampai ke puncak. Untuk pertama kalinya pendakian gunung maupun panjat tebing menjadi olahraga yang juga dapat 'ditonton' orang banyak. Robbins dan John Harlin dri AS bikin lintasan lurus di dinding barat du Dru, mendemonstrasikan keunggulan pemanjat AS dalam pemanjatan panjang dan berat. Pemerintah Nepal menutup pendakian Himalaya di wilayahnya.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1967
Revolusi bagi para pemanjat es. Chouinnard memperkenalkan kapak es berujung lengkung, dan McInnes menawarkan jenis Terodactyl. Lahirnya sekrup es berbentuk pipa meningkatkan standar pemanjatan ice climbing. Penggunaan tali kernmantle dipelopori oleh Inggris.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1968
Nafas segar bagi para pendaki, sejumlah lapangan terbang milik misi Katolik dibuka (Ji Irian. Tapi dasar sial, hampir bersamaan dengan itu Pemerintah Rl tidak lagi mengeluarkan izin pendakian di kawasan Carstensz.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1969
Reinhold Messner keluar dari pertapaannya di tebing-tebing Alpen Timur, meluruk ke barat, menyikat dinding es raksasa tes Drotes dalam waktu 81/2 jam solo, membuyarkan rekor sebelumnya, 3 hari.
Pemanjat-pemanjat Jepang mulai membanjiri pasaran di Alpen, antara lain bikin lintasan baru di Eiger.
Sensus yang dilakukan British Mountaineering Club (BMC) mengatakan, ada 45.000 pemanjat dan 500.000 walkers, di Inggris saja.
Nomer perdana majalah 'Mountain' beredar, menjadi media pendaki gunung dan pemanjat tebing pertama yang beredar luas dalam bahasa Inggris, sehingga banyak mempengaruhi perkembangan lewat perdebatan dan opini.
Pemerintah Nepal membuka kembali wilayahnya bagi pendakian Himalaya , dengan beberapa peraturan baru dan membatasi pendakian pada puncak-puncak yang terdaftar dalam permitted peaks saja. Agen-agen trekking komersial tumbuh dan berjibun seperti kutu yak, menggelitik kelompok-kelompok kecil dari luar 'main-main' di Himalaya dengan mudah dan murah.
Soe Hok Gie dan ldhan Lubis gugur di Gunung Semeru, terkena gas beracun.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1970
Dinding Selatan Annapurna dirambah tim Inggris, menggunting pita pembukaan era pendakian jalur-jalur sulit di gunung-gunung besar. Tingkat kesulitan lintasan menjadi lebih penting dari pada sekedar mencapai puncak. Ini tak lepas dari kian canggihnya perlengkapan panjat es, kecepatan pemanjatan meningkat drastis.
Di Alpen artificial climbing tambah populer dan kaya teknik. Kurang lebih tahun ini pula lahir cabang panjat dinding. Tebing buatan yang pertama dikenal orang kemungkinan besar didirikan di Universitas Leeds ,Inggris. Perancangnya Don Robinson, yang kemudian juga merancang dinding panjat di Acker's Trust, Birmingham , dinding panjat pertama yang diklaim mampu menampung segala pegangan, pijakan dan gerakan panjat tebing, sekaligus menawarkan bentuk sculpture yang artistik.
Sejalan dengan itu, bentuk-bentuk latihan terpisah dalam panjat tebing mulai menggema. Salah seorang pelopornya ialah Pete Livesey, pemanjat yang juga pecinta speleologi dan olahraga kano , serta punya dasar di atletik sebagai pelari. Pete tahu benar pentingnya latihan spesifik bagi jenis-jenis olahraga tersebut. Dan dia mencoba menerapkan prinsip yang sama pada panjat tebing. Pelan tapi pasti, panjat tebing mulai dipandang lebih sebagai kegiatan atletis, ketimbang sekedar 'hura-hura di tebing'. Tak lagi memadai semboyan 'best training for climber is climbing', apalagi hanya dengan memupuk kejantanan lewat gelas-gelas bir, seperti yang selama & dianut.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1971
Kawasan Carstensz kembali dibuka untuk pendakian, segera diserbu oleh ekspedisi-ekspedisi dari Australia, Jerman, AS, bahkan Hongkong. Tahun ini pula Mapala UI berhasil mencapai Puncak Jaya, antara lain oleh Herman O. Lantang dan Rudy Badil, orang-orang sipil Indonesia pertama.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1972
Untuk pertama kalinya panjat dinding masuk dalam jadwal olimpiade, yaitu didemonstrasikan dalam Olympiade Munich.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1974
Pasangan Reinhold Messner dan Peter Habeler mendaki Hidden Peak (8068 m) di Karakoram, 3 hari dengan Alpine push, kemudian memecahkan rekor kecepatan Eiger, 10 jam.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1975
Ekspedisi dari Jepang menjadi tim wanita pertama yang menjejakkan Puncak Everest. Sementara itu Cina mengirimkan tim pertamanya, dari punggungan timur laut.

Perlengkapan panjat es kian lengkap, lalu ramalan cuaca kian akurat dengan intervensi komputer. Akibatnya, seolah tak ada lagi pelosok Alpen yang terpencil. Namun, bercak-bercak kapur magnesium mulai terasa merisihkan tebing-tebing di Inggris dan Eropa daratan, kebanyakan dituduhkan sebagai ulah pemanjat-pemanjat 'hijau', yang mengobral magnesium pada lintasan-lintasan yang seharusnya bisa dilampaui tanpa bubuk itu.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1976
Harry Suliztiarto tak sanggup lagi menahan obsesinya, dengan tali nilon dia mulai latihan panjat memanjat di Citatah, dan dibelay oleh pembantu rumahnya. Patok pertama panjat tebing modern di Indonesia.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1977
Skygers Amateur Rock Climbing Group didirikan di Bandung oleh Harry Suliztiaito, Agus Resmonohadi, Heri Hermanu, Deddy Hikmat. Inilah awal tersebarnya kegiatan panjat tebing di Indonesia.
Ekspedisi Selandia Baru coba mendaki Everest tanpa bantuan sherpa. Mereka Cuma sampai South Col , tapi mereka mereka seolah memukul gong yang gaungnya merantak ke mana-mana, 'ekspedisi berdikari'. Yang pro mengganggapnya sebagai kejujuran yang wajib, yang kontra melecehkannya sebagai kesia-siaan yang konyol. Perdebatan tak selesai hingga kini.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1978
Messner & Habeler menggegerkan dunia kangouw Himalaya dengan pendakian Everest tanpa bantuan tabung oksigen. Tambah geger ketika Messner bersolo karier di Nanga PQrtied dalam waktu 12 hari. Pendakian solo ini oleh banyak pakar dianggap lebih penting daripada pendakian tanpa oksigennya.
Pemerintah Nepal menambahkan beberapa permitted peaks.
Dua pendaki Mapala UI, di antaranya Hadidjojo, menjajaki base camp Everest dari sisi selatan.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1979
Harry Suliztiarto memanjat atap Planetarium, Taman Ismail Marzuki.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1980
Tebing Parang untuk pertama kalinya oleh tim ITB, di bawah pimpinan Harry Sulisztiarto. Wanadri untuk pertamakalinya menyelenggarakan ekspedisi ke Carstensz di Pegunungan Jayawijaya. Skygers menyelenggarakan sekolah panjat tebing untuk pertama kalinya. Sampai kini belum ada lagi kelompok yang membuat pendidikan panjat tebing untuk umum seperti ini.
Pemerintah Nepal membuka kesempatan pendakian musim dingin, di samping musim semi dan musim gugur. Kian banyak kaki meratakan jalan-jalan setapak dipelbagai pelosok Himalaya , kikan tinggi sampah menumpuk di sana-sini. Sebagai gantinya, konon mata uang asing makin deras mengalir ke sana . Tapi siapa yang tambah kaya?
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1981
Dua ekspedisi Indonesia sekaligus di dinding Selatan Carstensz, Mapala Ul dan ITB. Salah seorang anggota tim Mapala Ul, Hartono Basuki, gugur di sini. Jayagiri dari Bandung mengirimkan Danardana mengikuti sekolah pendaki gunung di Glenmore Lodge, Skotlandia, dilanjutkan pendakian Matterhorn di Swiss.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1982
Jayagiri kembali mengirimkan orang, Irwanto, ke sekolah pendakian di ISM, Swiss, dilanjulkan ekspedisi 4 orang ke Mont Blanc di Perancis, dan Matterhorn serta Monte Rosa di Swiss.
Ahmad dari kelompok Gideon Bandung tewas terjatuh di Tebing 48 Citatah, korban pertama panjat tebing di Indonesia .
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1984
UGM (Mapagama) mengirimkan Tim Ekspedisi Gajah Mada ke Irian Jaya. Tim panjatnya, Gendon Bandono, bersama Ahmad Rizali dari Mapala UI berhasil mencapai puncak Carstensz Pyramide melalui jalur normal.
Tebing Lingga di Trenggalek, Jawa Timur, serta tebing pantai Uluwatu di Bali, berhasil dipanjat oleh kelompok Skygers bersama GAP (Gabungan Anak Petualang) dari Surabaya.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1985
Tebing Serelo di Lahat, Sumatra Selatan, berhasil dipanjat oleh tim yang menamakan dirinya Ekspedisi Anak Nakal. Ekspedisi Mapala Ul gagal mencapai Puncak Chulu West (6584 m) di Himalaya , Nepal . Ekspedisi Jayagiri gagal memanjat Eiger Nordwand.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1986
Kelompok gabungan Exclusive berhasil memanjat Tebing Bambapuang di selatan Toraja, Sulawesi Selatan.
Ketompok UKL (Unit Kenal Lingkungan) Univeritas Pajajaran Bandung memanjat tebing Gunung Lanang di Jawa Timur.
Pemanjat-pemanjat Jayagiri Bandung merampungkan Dinding Ponot di air terjun Sigura-gura, Sumatera Utara.
Ekspedisi Jayagiri mengulang pemanjatan Eiger, berthasil, menciptakan lintasan baru. Mapala Ul mengirimkan ekspedisi ke Puncak Kilimanjaro (5895 m) di Afrika antara lain Don Hasman.
Kompetisi panjat tebing pertama di dunia diselenggarakan di Uni Soviet, di tebing alam, dan sempat ditayangkan juga oleh TVRI.
Patrick Morrow, pendaki dan fotografer Kanada yang kelak mempopulerkan ide mendaki Seven Summits, mendaki Carstensz Pyramid bersama Adiseno dari Mapala UI. Ini puncak terakhir dari rangkaian Seven Summits yang didaki Pat Morrow.
Di tempat lain, milyuner asal Texas bernama Dick Bass juga merintis Seven Summits dalam versi berbeda. Dia menganggap Kosciusko (2230 m) di Australia sebagai bagian dari Seven Summits, bukannya Carstesz Pyramid.
Tahun ini pula, bersamaan dengan EXPO di Vancouver, Kanada, Pat Morrow menemani Norman Edwin, Adiseno, dan Tituz Pramono dari Mapala UI untuk memanjat puncak granit Bugaboo Spire (3186 m), salah satu puncak terpopuler Kanada yang terletak di kawasan British Columbia.
Mapala UI berlatih di Carstensz dengan ketuanya Adi Seno. Kelak, Mapala UI meneruskan tradisi latihan di Carstensz ini nyaris secara reguler. Beberapa tim yang datang ke sana antara lain dipimpin Handiman Rico (Koko), lalu oleh tim yang dipimpin Aloysius Febrian (Dedi).
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1987
Empat Anggota Ekspedisi Aranyacala Universitas Trisakti tewas diserang Gerombolan Pengacau Irian dalam perjalanan menuju Jayawaijaya.
Ekspedisi Wanadri menyelesaikan pemanjatan Tebing Batu Unta di Kalimantan Barat.
Kelompok Trupala memanjat tebing Bukit Gajah di Jawa Tengah. Sepikul di Jawa Timur disantap Skygers.
Ekspedisi Wanita Indonesia Mendaki Himalaya ke lmja Tse, Himalaya , hamper bersamaan dengan dua anggota Ekspedisi Jayagiri Saddle Marathon yang sedianya berambisi memanggul sepeda ke puncak namun terhadang birokrasi Nepal . Di Afrika, ekspedisi sepeda ini berhasil mencapal puncak tertingginya, Kilimanjaro (5895 m) dan Mount Kenya (5199 m, tanpa sepeda).
Ekspedisi Wanadri gagal mencapai Puncak Vasuki Parbat (6792 m) di Garhwal Himalaya , India .
Adi Seno: "Vasuki Parbat merupakan seri pertama ekspedisi atas biaya Sampoerna yang didapat oleh Wanadri. Dari Mapala UI ada dua orang yang ikut, saya dan Rudi Badil (Kompas). Saya ke base camp mereka dan terus ikut naik sampai Camp III , dimana akhirnya Ogun dkk mencoba ke puncak tapi gagal karena tali habis dan badai datang. Kita semua pulang bareng dgn selamat."
Lomba panjat tebing pertama di Indonesia dilaksanakan di tebing pantai Jimbaran
di Bali.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1988
Dinding panjat buatan pertama kali diperkenalkan di Indonesia, dibawa oleh 4 atlet pemanjat Prancis yang diundang atas kerjasama Kantor Menpora dengan Kedubes Perancis di Jakarta. Mereka juga sempat memberikan ilmu lewat kursus singkat kepada pemanjat-pemanjat kita. Bersamaan, lahir Federasi Panjat Gunung & Tebing Indonesia, diketuai Harry Suliztiarto.
Untuk pertama kalinya disusun rangkaian kejuaraan untuk memperebutkan Piala Dunia Panjat Dinding yang direstui dan diawasi langsung oleh UIAA (badan Internasional yang membawahi federasi-federasi panjat tebing dan pendaki gunung), diawali dengan kejuaraan di Snowbird , Utah , AS.
Ekspedisi panjat tebing pertama yang dilakukan sepenuhnya oleh wanita, Ekspedisi Putri Parang Aranyacala, Tower III. Sedangkan kelompok putranya memanjat Tebing Gunung Kembar di Citeureup, Bogor .
Ekspedisi UKL Unpad Bandung di Batu Unta, Kalbar, kehilangan satu anggotanya, Yanto Martogi Sitanggang jatuh bebas. Speed climbing pertama di Indonesia dilakukan oleh Sandy & Jati, di dinding utara Parang, 3 jam. Sekaligus merupakan pemanjatan big wall pertama tanpa menggunakan alat pengaman sama sekali, keduanya hanya dihubungkan dengan tali.
Lomba panjat 'tebing buatan' pertama dilakukan di Bandung, mengambil dinding gardu listrik.

Ekspedisi Wanadri berhasil menempatkan 3 pendakinya di Puncak Pumori (7145 m) di Himalaya , Nepal , disusul pasangan Hendricus Mutter dan Vera dari Jayagiri mendaki Imja Tse (6189 m), tanpa bantuan sherpa.
Lalu di Alpen, Ekspedisi Jayagiri Speed Climbing gagal memenuhi target waktu 2 hari pemanjatan dinding utara Eiger, mulur menjadi 5 hari. Sedangkan ekspedisi dari Pataga Jakarta berhasil menciptakan lintasan baru di dinding yang sama.
Di Yosemite, AS, Sandy Febyanto dan Jati Pranoto dari Jayagiri memanjat Tebing Half Dome (gagal memecahkan retor John Bachar & Peter Croft 4,5 jam) dan Tebing El Capitan (gagal memecahkan rekor 10,5 jam).
Mapala Ul mendaki Chimborazo (6267 m) dan Cayambe (gagal) di Pegunungan Andes , Ekuador (Amerika Selatan). Anggota tim adalah Adi Seno (ketua ekspedisi), Tantyo Bangun, alm. Didiek Samsu, Aloysius Febrian (Dedi), dan Setyo Ramadi.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1989
Awal tahun dunia panjat tebing Indonesia merunduk dilanda musibah, gugurnya salah satu pemanjat terbaik Indonesia, Sandy Febyanto, jatuh di Tebing Pawon, Citatah. Tapi tak lama, semangat almarhum seolah justru menyebar ke segala penjuru, memacu pencetakan prestasi panjat tebing di Bumi Pertiwi ini.
Tim Panjat Tebing Yogyakrta/TPTY melakukan ekspedisi ke Dinding Utara Carstensz tetapi gagal mencapai puncak secara direct, namun jalur normal Carstensz berhasil dipanjat sebelumnya.
Kembali kawasan Citeureup dirambah anak Aranyacala, kali ini Tebing Rungking. Arek-arek Young Pioneer dari Malang memanjat tebing Gajah Mungkur di seputaran dalam kawah Gunung Kelud. Kemudian tim Jayagiri dalam persiapannya ke Lhotse Shar di Nepal, mematok target memanjati semua pucuk-pucuk tebing sekeliling kawah Kelud tadi, tapi tak berhasil. Ekspedisi Lhotse Shar itu sendiri batal berangkat.
Tebing Uluwatu dipanjat ekspedisi putri yang kedua, dari Mahitala Unpar.
Kelompok MEGA Universitas Terumanegara melakukan Ekspedisi Marathon Panjat Tebing, beruntun di tebing-tebing Citatah, Parang, Gajah Mungkur, dan berakhir di Uluwatu, dalam waktu hampir sebulan, marathon panjat tebing pertama di Indonesia . Ekspedisi Putri Lipstick Aranyacala dia Bambapuang, tapi musibah menimpa sebelum puncak tergapai. Ali Irfan Batubara, fotografer tim, tewas tergelincir dari ketinggian.

Tahun ini tercatat tak kurang dari sepuluh kejuaraan panjat dinding diselenggarakan di Indonesia . Beberapa yang besar antara lain di Universitas Parahyangan Bandung , Universitas Trisakti Jakarta, ISTN Jakarta, di Markas Kopassus Grup I Serang, dua kali oleh Trupala SMA-6 (di Balai Sidang dan Ancol), lalu SMA 70 Bulungan Jakarta, kelompok KAPA FT Ul, Geologi ITB.
Mapala Ul bikin dua ekspedisi, Mount Cook (3764 m) di Selandia Baru dan Puncak McKinley (6149 m) di Alaska.
Yang mencapai puncak Mount Cook adalah Sugiono Soetedjo (ketua ekspedisi), Umar Farouk, dan satu pendaki lagi. Sementara Diah Bisono dan Keplek menunggu dan lantas bertemu pendaki sekaligus pemandu terkemuka, Eric Simondson.
Nama yang terakhir ini orang AS, yang di lain kesempatan menemani Gunawan Ahmad (Ogun) dari Wanadri dalam Ekspedisi Khancenjunga di Himalaya. Eric pula yang di akhir '90-an menemukan jenazah George Mallory di Everest. Di McKinley, keempat pendaki Mapala UI mencapai puncak: Sugiono Soetedjo, alm. Didiek Samsu,
Alloysius Febrian, dan alm. Norman Edwin.
Empat anggota Wanadri termasuk Ogun mengikuti kursus pendakian gunung es di Rainier Mountaineering Institute di AS, dilanjutkan dengan bergabung dengan ekspedisi AS ke Kangchenjunga di Himalaya. Tajuknya saat itu Ekspedisi Sampoerna.
Di Alpen, Ekspedisi Wanita Alpen Indonesia berhasil pula merampungkan misinya, mendaki 5 puncak tertinggi di 5 negara Eropa, Mont Blanc (4807m, Perancis), Grand Paradiso (4601 m, Italia), Marts Rosa (4634 m, Swiss), Grossgiockner (3978m, Austria) dan Zugsptee (2964 m, Jerman Barat).
Akhir tahun ini ditutup dengan gebrakan Budi Cahyono melakukan pemanjatan solo di Tower III Tebing Parang. Artificial solo climbing pada big wall yang pertama di Indonesia.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1990
Mapala UI menggelar ekspedisi dan berhasil mencapai puncak ke Mt. Elbrus (5642m) di Pegunungan Kaukasus, Georgia. Ini rangkaian dari program Seven Summits setelah Carstensz Pyramid, Kilimanjaro, dan McKinley. Keempat anggota tim adalah Norman Edwin, Didiek Samsu, Alloysius Febrian, dan Sugiono Soetedjo. Setelah Elbrus, tiga puncak lagi yang disasar adalah Aconcagua , Vinsson Masif, dan Everest.
Di Carstensz, Didiek Samsu dari Mapala UI mencetak rekor tercepat sampai saat itu. Base Camp di Lembah Danau-Danau ke puncak ditempuhnya dalam 10 jam. Didiek mendaki Carstensz menemani pendaki Belanda yang mengejar Seven Summits, Ronald Naar.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1991
Aryati menjadi wanita Asia pertama yang berhasil menjejakkan kakinya di Puncak Annapurna IV, Himalaya, pada Ekspedisi Annapurna Putri Patria Indonesia.
Tim Srikandi Tim Panjat Tebing Yogyakarta (6 orang) membuat jalur di Bukit Tanggul, Tulung Agung, Jawa Timur.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1992
Dunia petualangan Indonesia kembali berduka karena kehilangan dua orang terbaiknya, Norman Edwin dan Didiek Syamsu, anggota Mapala UI tewas diterjang badai di Gunung Aconcagua, Argentina. Tiga anggota tim lainnya adalah Rudi Nurcahyo, Fayez, dan Dian Hapsari.

Beberapa waktu kemudian, dua anggota Mapala UI menyelesaikan pendakian Aconcagua yaitu Ripto Mulyono dan Tantyo Bangun. Seven Summits ke-5 untuk Mapala UI. Tinggal dua yang belum: Everest dan Vinson Massif .
Ekspedisi Pemanjat Putri Indonesia menjejakkan kakinya di Puncak Tebing Cima Ovest, Tre Cime, Italia.
Ekspedisi Putri Khatulistiwa Tim Panjat Tebing Yogyakarta memanjat dinding utara Bukit Kelam, Sintang, Kalimantan Barat.
Adi Seno dan Budi Cahyono ke Carstensz tahun 1992 bulan Mei. Bertemu dua pemanjat dari Eropa Timur.
Adi Seno: "Saat turun Budi memungut helm mereka, karena helm mereka Petzl, mahal banget. Saya jatuhkan di puncak Carstensz ketika dipakai untuk menggali snow hole. Kita bermalam di puncak. Saya punya foto Budi di puncak ketika tiba malam, dia yang simpan. Teman-teman dari Wanadri, Jojo teman saya ke Vasuki Parbat tahun 1987 (Juni) tidak percaya saya sampai di atas sana ."
"Kami manjat dua hari. Hari pertama kemah di teras besar. Hari kedua sampai di puncak pukul 18.00 waktu setempat. Bermalam karena jalan turun lewat rute normal yang saya pernah lewati dua kali sebelumnya (1984 dan 1986) tidak terlihat. Besoknya kita turun rapelling dan meninggalkan anchor di puncak tali. Sebuah webbing kuning, (mustinya Agung, Zainal, Rully dkk lihat karena selanjutnya mereka yang ke puncak).
Rute tersebut di pesawat pulang ke Jakarta disepakati oleh Budi Cahyono, atas usul saya, untuk dinamai rute Norman Edwin yang tahun itu meninggal di Aconcagua . Ini mencontoh rute sulit di Eiger yang diberi nama pendaki Amerika terkemuka, yang tewas saat mencoba membuat rute. Cerita ini ada di TRAS edisi tahun 1993."
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1993
Mapala UI berekspedisi dan berlatih untuk kesekian kali ke Carstensz. Satu tim (Zainal, Agung, Rully) membuat jalur direct, memanjat Carstensz Pyramid dan kelak jalur ini diberi nama Didiek Samsu. Satu tim lagi (Sapto, Hariyono, Cholik, dll) mendaki lewat rute normal. Tim pimpinan M. Fayez ini juga mendaki puncak-puncak lain di kawasan itu, sekaligus melakukan penelitian terhadap fungsi faal manusia di ketinggian, melibatkan unsur medis dari Jakarta .
Bulan Desember, Adi Seno dan Diah Bisono berusaha ke Mount Cook lewat jalur pendakian pertama. Tapi lantas memustuskan kembali setibanya di gletser.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1994
Ekspedisi Mapala UI memanjat tebing-tebing di Trenggalek dan Pacitan.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1995
Adi Seno bersama Patrick dan Baiba Morrow mendaki 21 gunung di atas ketinggian 3000 meter di Jepang. Mereka menyeberangi Pulau Honsyu dari Laut Jepang sampai Laut Pasifik sambil mendaki marathon.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1996
Dua guide profesional, Scott Fischer dari San Francisco (AS) dan Rob Hall dari Selandia Baru tewas saat terjadi musibah di Everest. Jon Krakauer, anggota tim yang juga reporter Majalah Outside, menuliskan tragedi ini ke dalam buku yang lantas menjadi best seller, Into Thin Air, dan juga difilmkan.
Mapala UI sekali lagi menyatroni Trenggalek, Jawa Timur. Kali ini giliran Watu Lingga yang batuan andhesit-nya rapuh.
Para pemanjat di acara Temu Wicara dan Kenal Medan Mahasiswa Pencinta Alam Indonesia (TWKM) membuat beberapa jalur sport climbing di Tebing Lazila, Buton ( Sulawesi Tenggara).
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1997
Clara Sumarwati membuat kontroversi dalam pendakiannya di Everest, puncak tertinggi di Pegunungan Himalaya. Banyak pihak yang meragukan kedua kakinya telah menjejak puncak tertinggi di dunia itu.
Pratu Asmujiono anggota pendaki dari Kopassus menjadi orang pertama Indonesia yang menjejakkan kakinya di puncak tertinggi Himalaya , Everest. Asmujiono berangkat bersama tim Ekpedisi Everest Indonesia yang merupakan gabungan anggota Kopassus dan pendaki sipil lainnya. Tiga pendaki Mapala UI terlibat dalam ekspedisi ini. Rudi Nurcahyo mendaki dari sisi selatan, Ripto Mulyono dari sisi utara, dan ada pula Adiseno.

Ekspedisi Putri Mapala UI merampungkan pemanjatan Bambapuang di Sulawesi Selatan. Anggotanya adalah Andi Purnomowati, Maya, Nadira, Dian, dan Ita.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
1999
Tebing Lawe di Banjarnegara (Jawa Tengah) dipanjat oleh Mapala UI.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
2002
Tebing Dolok Simarsolpa di Sumatera Utara dipanjat oleh beberapa anggota Mapala UI bersama pemanjat setempat. Simarsolpa berbatu andhesit setinggi 250 meter.
Anatoly Boukreev, seorang mountaineer berkebangsaan Rusia yang terkemuka di Himalaya, konsultan pada Ekspedisi Indonesia ke Everest pada tahun 1997, tewas tertimpa avalanche di Annapurna.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
2003
Ekspedisi Mapala UI memanjat tebing Gunung Krakatau di Selat Sunda. Sekitar tahun ini pula Mapala UI merintis jalur baru untuk mendaki puncak Gunung Raung (Jawa Timur) yang sesungguhnya. Di Jawa Barat, tebing Sela-Rumpang di Taman Nasional Gede Pangrango dijajal oleh beberapa pemanjat Mapala UI dengan izin khusus.
Ekspedisi Aranyacala Trisakti ke Mount Cook di Selandia Baru gagal pada percobaan pertama. Sembilan pendaki diselamatkan oleh SAR setempat.
--------------------------------------------------------------------------------\--------------------------
2004
Patrick Berhault meninggal jatuh di Dom, puncak tertinggi Swiss, dalam rangka memanjat semua tebing gunung 4000 meter di Alp. Rencananya selama tiga bulan dia manjat semua 4000 meter, dan jika berhasil di DOm itu berarti puncak yang ke-65!

Kejadiannya 29 April. Berhault pernah manjat di Indonesia bersama Corinne Labrun. Dia juga yang ikut membangunkan FPTGI, cikal bakal FPTI.
(*)
readmore »»  

In Memoriam Norman Edwin 1955 - 1992



Norman Edwin sosok pecinta olahraga petualang yg pernah ada di Indonesia, di kenal sebagai pribadi yg pemberani dan suka menolong oleh keluarga dan teman2nya sesama jurnalist Kompas, tempat terakhirnya bekerja. Norman tewas di usia 37 tahun bersama rekan satu teamnya Didiek Samsu Wahyu Triachdi saat pendakian Puncak Aconcagua (6969m), pegunungan yang membentang sepanjang perbatasan Chile - Argentina, saat itu ia tergabung dalam Seven Summit Expedition 1992 - Mapala UI.

Didiek juga tercatat sebagai wartawan di Majalah Jakarta Jakarta. Indonesia berduka, musibah menimpa Expedisi Seven Summit pada pertengahan April 1992 merenggut dua orang pendaki terbaiknya, Norman Edwin dan Didiek Samsu Wahyu Triachdi. Media nasional dan international banyak meliput kejadian tewasnya dua pendaki ini.

Norman saat itu memimpin Team Pecinta Alam Universitas Indonesia yang tergabung di Mapala UI dalam upayanya mendaki Puncak Aconcagua 6959-mtr Chile. Gunung yg disebut juga 'The Devil's Mountain' karena faktor cuacanya tak bisa diprediksikan, sering kali badai salju melanda pegunungan selama berhari hari. Puncaknya dijadikan tujuan karena menjadi salah satu Puncak Tertinggi dalam Expedisi Tujuh Puncak Dunia Mapala UI.

Berbekal pengetahuan dalam Penelusuran gua, Pendakian Gunung, Pelayaran, Arung Jeram serta sejumlah pengalaman Rescue di Irian Jaya, Kalimantan, Africa, Canada bahkan Himalaya, membentuk kecepatan dan kekuatan phisik pada dirinya yang telah bergabung di Mapala UI sejak tahun 1977. Sampai akhirnya terpilih menjadi Leader dalam Expedisi ini bersama Didiek, Rudy "Becak" Nurcahyo, Mohamad Fayez and Dian Hapsari, satu2nya wanita dalam team tersebut.

Sebetulnya banyak meragukan kemampuan Norman, jauh hari sebelum Expedisi ini di mulai, namun pengalamannya selama 15 tahun dalam berpetualang serta menghadapi berbagai bahaya, diyakini membuatnya tetap berangkat. Saat expedisi berlangsung, badai salju menghantam Team ini dan akhirnya merenggut duet pendaki ini. Jenazah Didiek adalah yang pertama ditemukan pada tanggal 23 Maret atas laporan beberapa pendaki negara lain yang kebetulan melihat mereka berdua terakhir di ketinggian 6400m, beberapa ratus meter lagi sebelum Puncak.

Dilaporkan pula saat itu, kondisi keduanya terlihat sangat kritis, beberapa jari Norman terkena Frosbite (Mati Beku karna Dingin) dan Didiek menderita Snow Blindness (Buta Salju) akibat pancaran sinar matahari yang berlebihan, memantul di hamparan salju dataran tinggi. Kemungkinan hal ini sangat mendekati karena Google (Kacamata Salju) yang dipakai Didiek rusak berat.

Jenazah Norman ditemukan beberapa hari kemudian dan langsung diterbangkan ke Jakarta pada tanggal 21 April 1992. Spekulasi merebak melalui media massa bahwa kegagalan mereka juga diakibatkan karena minimnya pelaralatan yang dibawa. Aconcagua terpilih setelah Mapala UI merencanakan Expedisi Tujuh Puncak Dunia lainnya yaitu Cartenz Pyramid (4,884 meters) di Irian Jaya; McKinley (6,194 meters) di Alaska, Amerika Serikat; Kilimanjaro (5,894 meters) in Tanzania, Afrika; dan Elbrus (5,633 meters) di Uni Soviet, (sekarang Rusia).

Setahun kemudian setelah tragedi ini, Mapala UI yang status keanggotaannya berlaku seumur hidup ini, mencoba mengirim kembali dua anggota lainnya yaitu Tantyo Bangun dan Ripto Mulyono untuk menyelesaikan pendakian sekelas Expedisi Aconcagua ke Vinson Massif (4,887 meters) di Kutub Selatan. Dan satu lagi Puncak Everest di Himalaya dengan nama Team Expedisi Universitas Indonesia, namun sayang kegagalan juga menimpa team ini.

Dua kegagalan rupanya tidak menyurutkan semangat Mapala UI, karna puncak terakhirnya tetap dijadikan target bagi Expedisi Gabungan selanjutnya yang terdiri dari Mapala UI, Koppassus dan Wanadri. 'Kami berusaha melakukan pendakian gabungan ke Everest tahun 1997 dan sukses, dua anggota team dari prajurit Koppassus yaitu Asmujiono dan Misirin berhasil mencapai Puncak Everest.' ujar Rudy "Becak" Nurcahyo anggota Indonesian National Team to Everest yang juga kehilangan jarinya karna Frosbite di Expedisi Aconcagua.

'Kami mencoba yang tebaik untuk mewujudkan itu semua.. dan saya percaya Norman dan Didiek pun akan tersenyum disana melihat keberhasilan Team Everest ini. walaupaun setelah tahun 1997, Indonesia dilanda krisis ekonomi kemudian masa reformasi yang tak lama berselang. Keadaan ini otomatis ini menghambat Expedisi-expedisi selanjutnya yang telah direncanakan.. tambahnya.

Bagi istri Norman, Karina serta Melati putrinya, sosok hangat dan eksentrik Norman akan tetap menjadi kenangan yang takkan terlupakan. Semasa hidup, Melati selalu diajak serta dalam kegiatan alam bebas yang digeluti ayahnya itu, termasuk perjalanan ke Irian Jaya saat ia masih kecil. 'Norman menjadi seorang petualang sejati dan sedikit bandingannya diantara pendaki-pendaki yang ada sekitar tahun 1970-80, dan Didiek adalah teman dekatnya.

Ia tunjukkan rasa hormatnya kepada wanita dan yakin bahwa wanita dapat mengerjakan sesuatu yang lebih baik daripada pria, apalagi menyangkut faktor keselamatan, contohnya Penulusan Gua' papar Karina yang dulu juga aktif dalam kegiatan alam bebas sekembalinya dari Australia dan mengambil kuliah lagi jurusan Arkeologi di Universitas Indonesia.
(sumber: The Jakarta Post)
'Norman pernah mengatakan, aktivis alam wanita cenderung lebih tenang, tidak mudah panik dan dapat mengatasi situasi darurat jika dibandingkan dengan pria. Bagi saya ia sangat humoris dan mempunyai semangat hidup yang tinggi. Begitu pula yg rasakan Melati, sifat ayahnya ini menurun kepadanya walaupun ia masih berusia remaja. Janganlah kita mencoba menaklukkan ganasnya alam, tapi belajarlah untuk menaklukkan ego serta mengetahui batasan diri kita sendiri, faktor ini adalah yang terpenting jika ingin menekuni olahraga beresiko tinggi' ungkap Karina yang dulu juga ikut dalam team di Expedisi Cartenz Irian Jaya tahun 1981 dan saat ini telah menyelesaikan program Doctoralnya di Australian National University.
Norman dan Didiek telah tiada, namun spiritnya kuat meresap di hati para pecinta olahraga alam bebas Indonesia. Penghargaan patut mereka terima atas keberanian dan semangat pantang menyerah, sehingga dapat dijadikan contoh bagi petualang2 muda lainnya yang masih ada.
readmore »»  

Norman Edwin Petualang Indonesia. on Senin, 22 Maret 2010 Label: Legenda Salam Lestari!!!

Ia diketemukan tewas tertelungkup di bawah timbunan salju—tangannya
menggenggam erat kapak es dan seakan sedang menancapkan kapak es itu
guna menahan tubuhnya—ditutupi salju di ketinggian 6.700 meter, hanya
sekitar 200 meter dari puncak Aconcagua!

Kalimat di atas adalah cuplikan dari kalimat beberapa media massa—
bahkan media televisi—yang mengabarkan tewasnya seorang petualang
asal Indonesia, Norman Edwin, si Beruang Gunung. Kalangan pecinta
alam Indonesia pun disaput duka. petualang sejati yang paling handal
dan diandalkan juga paling kharismatis itu telah 'pergi' didampingi
sahabat sejatinya—si Samson, Didiek Samsu. Dia telah menyatu dengan
alam yang dicintainya. Kepala tertunduk dan air mata pun menetes
mengiringi kepergiannya. Seluruh media massa nasional
memberitakan `kepergiannya'. Tetapi jejaknya telah ia tinggalkan,
berpenggal kenangan ia berikan. Indonesia pun kehilangan salah
satu `pahlawan gunungnya' yang cukup dikenal dunia. Kisah hidup dan
petualangannya menjadi kenangan tersendiri dalam hati keluarga,
Mapala UI dan rekan-rekan sepetualangannya, serta dalam sejarah
petualangan Indonesia. Mungkin orang-orang yang belum kenal mereka
akan bertanya-tanya, siapakah Norman Edwin itu? Koq, berita
kematiannya begitu
menghebohkan, menggemparkan, sempat bikin sibuk dua kedutaan—
Argentina dan Chile? Menyibukkan beberapa orang menteri
bahkan `menggugah' perhatian Presiden Soeharto kala itu?

Norman Edwin, anak lelaki yang berdarah Palembang-Cirebon. Sejak
kecil dia sudah menyukai kegiatan yang berbau petualangan. Ketika
SMA, dia sudah beberapa kali melakukan pendakian gunung. Hingga
kegiatan pendakiannya makin menggila ketika ia bergabung dengan
Mapala UI. Bisa dikatakan, Norman hampir menguasai seluruh bidang
petualangan di alam bebas. Pada waktu itu dunia petualangan berupa
kegiatan mendaki gunung (hiking), panjat tebing (rock climbing),
telusur goa (caving), berlayar (sailing), arung jeram (rafting),
menyelam (diving) atau terjun payung. Dari semua dunia itu, hanya
diving dan terjun payung kiprah Norman tidak begitu santer
terdengar. Norman Edwin, si Beruang Gunung, petualang sejati yang
paling handal dan diandalkan juga paling kharismatis. Ia juga bukan
petualang karbitan yang heboh waktu berhasil mendaki sebuah gunung
setelah itu hilang lenyap, tak ada lagi berita aktivitas
kelanjutannya. Karena Norman itu orang yang konsisten dan disiplin.
Ia juga sosok yang
humoris, sekaligus `guru' yang rendah hati dan jadi idola sekian
banyak pecinta alam. Tak jarang ia diundang oleh perkumpulan-
perkumpulan pecinta alam untuk menjadi instruktur mereka, membagi
cerita dan pengalaman petualangannya. Atau kiprah nyata dia dalam
memimpin proses evakuasi, operasi SAR korban hilang di gunung. Ia
menjadi orang pertama yang mempopulerkan arung jeram serta telusur
goa di Indonesia. Ia juga menjadi satu-satunya orang Indonesia yang
memiliki sertifikat lisensi teknik penyelamatan goa dari Ameika
Serikat. Ia petualang Indonesia (pada masa itu) yang sudah merambahi
benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa, Australia, hingga daerah Alaska.

Norman juga tak hanya dikenal sebagai seorang petualang yang tangguh,
ia merupakan seorang yang piawai dalam dunia jurnalistik. Baik motret
atau pun membikin tulisan. Ia memang sempat jadi wartawan Mutiara,
Suara Alam dan Kompas. Belum lagi tulisan-tulisannya yang tersebar ke
berbagai media massa. Gaya tulisan Norman memiliki ciri khas yang
unik. Tulisannya yang jujur, tegas, terbuka dan berani dalam
mengungkapkan berbagai titik permasalahan. Dia selalu menuliskan
kejujuran, meski terkadang dianggap kontroversi. Tak perduli itu akan
membikin panas telinga beberapa pihak. Namun itulah yang mematangkan
dunia tulis menulis Norman. Norman tak hanya menceritakan berita
petualangannya saja yang lokal maupun internasional itu saja. Tapi ia
selalu menulis berita informasi yang lengkap dan dengan gaya tulisan
yang manis. Kadang ia juga menyelipkan nasehat cara-cara yang baik
untuk bergiat di alam bebas. Jadi tak melulu menceritakan
kegagahannya di alam bebas. Hingga ketulusan Norman dalam
memperkenalkan kegiatan alam bebas makin dipertegas dengan
menerbitkan sebuah buku karangannya yang berjudul "Mendaki Gunung
adalah Sebuah Tantangan Petualangan", terbitan PT. Aya Media pada
tahun 1987. Ia memang telah mempopulerkan olah raga di alam bebas di
kalangan generasi muda lewat tulisannya di berbagai media massa, juga
melalui seminar dan berhasil menggerakkan mereka untuk kembali
mencintai alam, mengajarkan bagaimana menggiati dunia petualangan
yang baik dan sehat bagi remaja serta buku buah karya Norman itu juga
telah merembesi sekian banyak pecinta alam muda Indonesia.

Ia juga yang berambisi mengangkat nama Indonesia dengan program—Seven
Summit—mendaki serta mengibarkan Sang Saka Merah Putih di tujuh
puncak dari tujuh benua. Ia makin dikenal di dalam maupun luar
negeri. Perlu diketahui juga, bila sedang berkunjung ke luar negeri
Norman dan rekan-rekannya tak pernah jemu untuk selalu memperkenalkan
Indonesia ke negara yang dikunjunginya—terutama mempromosikan daerah
wisata di Indonesia. Empat puncak berhasil didaki secara spartan,
yakni puncak Carstensz Pyramide, McKinley, Elbrus, Kilimanjaro hingga
ekspedisi puncak benua yang ke 5, yakni gunung Aconcagua. Hingga
berita buruk itu pun, tersiar bahwa tim ekspedisi Mapala UI mengalami
musibah di gunung yang berada di Amerika Selatan, perbatasan Chile–
Argentina tepatnya. Tim Norman memang banyak mengalami kendala di
lapangan, hingga tersiar kabar yang lebih menyakitkan lagi. Bahwa
Didiek Samsu—salah seorang teman seperjalanannya—ditemukan dalam
keadaan tewas dan Norman dinyatakan hilang tak tahu
arahnya, hingga akhirnya diketemukan oleh pendaki Austria dalam
keadaan tewas, hanya 200 meter dari puncak Aconcagua!

Ia 'pergi' dengan damai bersama sahabat sejatinya—si Samson, Didiek
Samsu—meninggalkan segalanya, ia telah menyatu dengan alam yang
dicintainya. Kepala tertunduk dan air mata pun menetes mengiringi
kepergiannya. Ternyata merasa kehilangan itu tak hanya dimiliki oleh
keluarga mereka, Mapala UI atau teman-teman dekat mereka saja, tapi
kehilangan bagi seluruh penggiat alam bebas di segenap penjuru Tanah
Air. Indonesia pun kehilangan salah satu `pahlawan gunungnya' yang
cukup dikenal dunia. Tetapi jejaknya telah ia tinggalkan, berpenggal
kenangan ia berikan. Maka tak salah bila kita ingin mewarisi niat dan
semangatnya yang menggelora. Norman Edwin memang sosok yang pantas
untuk dikenal sekaligus dikenang. Waktu itu, hampir semua TV serta
surat kabar daerah dan nasional ramai memberitakan tentang musibah
yang mereka alami. Kisah hidup dan petualangannya menjadi kenangan
tersendiri dalam hati keluarga, Mapala UI dan rekan-rekan
sepetualangannya, serta dalam sejarah petualangan Indonesia.
Norman Edwin Petualang Indonesia.
on Senin, 22 Maret 2010
Label: Legenda
Salam Lestari!!!



Ia diketemukan tewas tertelungkup di bawah timbunan salju—tangannya
menggenggam erat kapak es dan seakan sedang menancapkan kapak es itu
guna menahan tubuhnya—ditutupi salju di ketinggian 6.700 meter, hanya
sekitar 200 meter dari puncak Aconcagua!

Kalimat di atas adalah cuplikan dari kalimat beberapa media massa—
bahkan media televisi—yang mengabarkan tewasnya seorang petualang
asal Indonesia, Norman Edwin, si Beruang Gunung. Kalangan pecinta
alam Indonesia pun disaput duka. petualang sejati yang paling handal
dan diandalkan juga paling kharismatis itu telah 'pergi' didampingi
sahabat sejatinya—si Samson, Didiek Samsu. Dia telah menyatu dengan
alam yang dicintainya. Kepala tertunduk dan air mata pun menetes
mengiringi kepergiannya. Seluruh media massa nasional
memberitakan `kepergiannya'. Tetapi jejaknya telah ia tinggalkan,
berpenggal kenangan ia berikan. Indonesia pun kehilangan salah
satu `pahlawan gunungnya' yang cukup dikenal dunia. Kisah hidup dan
petualangannya menjadi kenangan tersendiri dalam hati keluarga,
Mapala UI dan rekan-rekan sepetualangannya, serta dalam sejarah
petualangan Indonesia. Mungkin orang-orang yang belum kenal mereka
akan bertanya-tanya, siapakah Norman Edwin itu? Koq, berita
kematiannya begitu
menghebohkan, menggemparkan, sempat bikin sibuk dua kedutaan—
Argentina dan Chile? Menyibukkan beberapa orang menteri
bahkan `menggugah' perhatian Presiden Soeharto kala itu?

Norman Edwin, anak lelaki yang berdarah Palembang-Cirebon. Sejak
kecil dia sudah menyukai kegiatan yang berbau petualangan. Ketika
SMA, dia sudah beberapa kali melakukan pendakian gunung. Hingga
kegiatan pendakiannya makin menggila ketika ia bergabung dengan
Mapala UI. Bisa dikatakan, Norman hampir menguasai seluruh bidang
petualangan di alam bebas. Pada waktu itu dunia petualangan berupa
kegiatan mendaki gunung (hiking), panjat tebing (rock climbing),
telusur goa (caving), berlayar (sailing), arung jeram (rafting),
menyelam (diving) atau terjun payung. Dari semua dunia itu, hanya
diving dan terjun payung kiprah Norman tidak begitu santer
terdengar. Norman Edwin, si Beruang Gunung, petualang sejati yang
paling handal dan diandalkan juga paling kharismatis. Ia juga bukan
petualang karbitan yang heboh waktu berhasil mendaki sebuah gunung
setelah itu hilang lenyap, tak ada lagi berita aktivitas
kelanjutannya. Karena Norman itu orang yang konsisten dan disiplin.
Ia juga sosok yang
humoris, sekaligus `guru' yang rendah hati dan jadi idola sekian
banyak pecinta alam. Tak jarang ia diundang oleh perkumpulan-
perkumpulan pecinta alam untuk menjadi instruktur mereka, membagi
cerita dan pengalaman petualangannya. Atau kiprah nyata dia dalam
memimpin proses evakuasi, operasi SAR korban hilang di gunung. Ia
menjadi orang pertama yang mempopulerkan arung jeram serta telusur
goa di Indonesia. Ia juga menjadi satu-satunya orang Indonesia yang
memiliki sertifikat lisensi teknik penyelamatan goa dari Ameika
Serikat. Ia petualang Indonesia (pada masa itu) yang sudah merambahi
benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa, Australia, hingga daerah Alaska.

Norman juga tak hanya dikenal sebagai seorang petualang yang tangguh,
ia merupakan seorang yang piawai dalam dunia jurnalistik. Baik motret
atau pun membikin tulisan. Ia memang sempat jadi wartawan Mutiara,
Suara Alam dan Kompas. Belum lagi tulisan-tulisannya yang tersebar ke
berbagai media massa. Gaya tulisan Norman memiliki ciri khas yang
unik. Tulisannya yang jujur, tegas, terbuka dan berani dalam
mengungkapkan berbagai titik permasalahan. Dia selalu menuliskan
kejujuran, meski terkadang dianggap kontroversi. Tak perduli itu akan
membikin panas telinga beberapa pihak. Namun itulah yang mematangkan
dunia tulis menulis Norman. Norman tak hanya menceritakan berita
petualangannya saja yang lokal maupun internasional itu saja. Tapi ia
selalu menulis berita informasi yang lengkap dan dengan gaya tulisan
yang manis. Kadang ia juga menyelipkan nasehat cara-cara yang baik
untuk bergiat di alam bebas. Jadi tak melulu menceritakan
kegagahannya di alam bebas. Hingga ketulusan Norman dalam
memperkenalkan kegiatan alam bebas makin dipertegas dengan
menerbitkan sebuah buku karangannya yang berjudul "Mendaki Gunung
adalah Sebuah Tantangan Petualangan", terbitan PT. Aya Media pada
tahun 1987. Ia memang telah mempopulerkan olah raga di alam bebas di
kalangan generasi muda lewat tulisannya di berbagai media massa, juga
melalui seminar dan berhasil menggerakkan mereka untuk kembali
mencintai alam, mengajarkan bagaimana menggiati dunia petualangan
yang baik dan sehat bagi remaja serta buku buah karya Norman itu juga
telah merembesi sekian banyak pecinta alam muda Indonesia.

Ia juga yang berambisi mengangkat nama Indonesia dengan program—Seven
Summit—mendaki serta mengibarkan Sang Saka Merah Putih di tujuh
puncak dari tujuh benua. Ia makin dikenal di dalam maupun luar
negeri. Perlu diketahui juga, bila sedang berkunjung ke luar negeri
Norman dan rekan-rekannya tak pernah jemu untuk selalu memperkenalkan
Indonesia ke negara yang dikunjunginya—terutama mempromosikan daerah
wisata di Indonesia. Empat puncak berhasil didaki secara spartan,
yakni puncak Carstensz Pyramide, McKinley, Elbrus, Kilimanjaro hingga
ekspedisi puncak benua yang ke 5, yakni gunung Aconcagua. Hingga
berita buruk itu pun, tersiar bahwa tim ekspedisi Mapala UI mengalami
musibah di gunung yang berada di Amerika Selatan, perbatasan Chile–
Argentina tepatnya. Tim Norman memang banyak mengalami kendala di
lapangan, hingga tersiar kabar yang lebih menyakitkan lagi. Bahwa
Didiek Samsu—salah seorang teman seperjalanannya—ditemukan dalam
keadaan tewas dan Norman dinyatakan hilang tak tahu
arahnya, hingga akhirnya diketemukan oleh pendaki Austria dalam
keadaan tewas, hanya 200 meter dari puncak Aconcagua!

Ia 'pergi' dengan damai bersama sahabat sejatinya—si Samson, Didiek
Samsu—meninggalkan segalanya, ia telah menyatu dengan alam yang
dicintainya. Kepala tertunduk dan air mata pun menetes mengiringi
kepergiannya. Ternyata merasa kehilangan itu tak hanya dimiliki oleh
keluarga mereka, Mapala UI atau teman-teman dekat mereka saja, tapi
kehilangan bagi seluruh penggiat alam bebas di segenap penjuru Tanah
Air. Indonesia pun kehilangan salah satu `pahlawan gunungnya' yang
cukup dikenal dunia. Tetapi jejaknya telah ia tinggalkan, berpenggal
kenangan ia berikan. Maka tak salah bila kita ingin mewarisi niat dan
semangatnya yang menggelora. Norman Edwin memang sosok yang pantas
untuk dikenal sekaligus dikenang. Waktu itu, hampir semua TV serta
surat kabar daerah dan nasional ramai memberitakan tentang musibah
yang mereka alami. Kisah hidup dan petualangannya menjadi kenangan
tersendiri dalam hati keluarga, Mapala UI dan rekan-rekan
sepetualangannya, serta dalam sejarah petualangan Indonesia.
readmore »»