menggenggam erat kapak es dan seakan sedang menancapkan kapak es itu
guna menahan tubuhnya—ditutupi salju di ketinggian 6.700 meter, hanya
sekitar 200 meter dari puncak Aconcagua!
Kalimat di atas adalah cuplikan dari kalimat beberapa media massa—
bahkan media televisi—yang mengabarkan tewasnya seorang petualang
asal Indonesia, Norman Edwin, si Beruang Gunung. Kalangan pecinta
alam Indonesia pun disaput duka. petualang sejati yang paling handal
dan diandalkan juga paling kharismatis itu telah 'pergi' didampingi
sahabat sejatinya—si Samson, Didiek Samsu. Dia telah menyatu dengan
alam yang dicintainya. Kepala tertunduk dan air mata pun menetes
mengiringi kepergiannya. Seluruh media massa nasional
memberitakan `kepergiannya'. Tetapi jejaknya telah ia tinggalkan,
berpenggal kenangan ia berikan. Indonesia pun kehilangan salah
satu `pahlawan gunungnya' yang cukup dikenal dunia. Kisah hidup dan
petualangannya menjadi kenangan tersendiri dalam hati keluarga,
Mapala UI dan rekan-rekan sepetualangannya, serta dalam sejarah
petualangan Indonesia. Mungkin orang-orang yang belum kenal mereka
akan bertanya-tanya, siapakah Norman Edwin itu? Koq, berita
kematiannya begitu
menghebohkan, menggemparkan, sempat bikin sibuk dua kedutaan—
Argentina dan Chile? Menyibukkan beberapa orang menteri
bahkan `menggugah' perhatian Presiden Soeharto kala itu?
Norman Edwin, anak lelaki yang berdarah Palembang-Cirebon. Sejak
kecil dia sudah menyukai kegiatan yang berbau petualangan. Ketika
SMA, dia sudah beberapa kali melakukan pendakian gunung. Hingga
kegiatan pendakiannya makin menggila ketika ia bergabung dengan
Mapala UI. Bisa dikatakan, Norman hampir menguasai seluruh bidang
petualangan di alam bebas. Pada waktu itu dunia petualangan berupa
kegiatan mendaki gunung (hiking), panjat tebing (rock climbing),
telusur goa (caving), berlayar (sailing), arung jeram (rafting),
menyelam (diving) atau terjun payung. Dari semua dunia itu, hanya
diving dan terjun payung kiprah Norman tidak begitu santer
terdengar. Norman Edwin, si Beruang Gunung, petualang sejati yang
paling handal dan diandalkan juga paling kharismatis. Ia juga bukan
petualang karbitan yang heboh waktu berhasil mendaki sebuah gunung
setelah itu hilang lenyap, tak ada lagi berita aktivitas
kelanjutannya. Karena Norman itu orang yang konsisten dan disiplin.
Ia juga sosok yang
humoris, sekaligus `guru' yang rendah hati dan jadi idola sekian
banyak pecinta alam. Tak jarang ia diundang oleh perkumpulan-
perkumpulan pecinta alam untuk menjadi instruktur mereka, membagi
cerita dan pengalaman petualangannya. Atau kiprah nyata dia dalam
memimpin proses evakuasi, operasi SAR korban hilang di gunung. Ia
menjadi orang pertama yang mempopulerkan arung jeram serta telusur
goa di Indonesia. Ia juga menjadi satu-satunya orang Indonesia yang
memiliki sertifikat lisensi teknik penyelamatan goa dari Ameika
Serikat. Ia petualang Indonesia (pada masa itu) yang sudah merambahi
benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa, Australia, hingga daerah Alaska.
Norman juga tak hanya dikenal sebagai seorang petualang yang tangguh,
ia merupakan seorang yang piawai dalam dunia jurnalistik. Baik motret
atau pun membikin tulisan. Ia memang sempat jadi wartawan Mutiara,
Suara Alam dan Kompas. Belum lagi tulisan-tulisannya yang tersebar ke
berbagai media massa. Gaya tulisan Norman memiliki ciri khas yang
unik. Tulisannya yang jujur, tegas, terbuka dan berani dalam
mengungkapkan berbagai titik permasalahan. Dia selalu menuliskan
kejujuran, meski terkadang dianggap kontroversi. Tak perduli itu akan
membikin panas telinga beberapa pihak. Namun itulah yang mematangkan
dunia tulis menulis Norman. Norman tak hanya menceritakan berita
petualangannya saja yang lokal maupun internasional itu saja. Tapi ia
selalu menulis berita informasi yang lengkap dan dengan gaya tulisan
yang manis. Kadang ia juga menyelipkan nasehat cara-cara yang baik
untuk bergiat di alam bebas. Jadi tak melulu menceritakan
kegagahannya di alam bebas. Hingga ketulusan Norman dalam
memperkenalkan kegiatan alam bebas makin dipertegas dengan
menerbitkan sebuah buku karangannya yang berjudul "Mendaki Gunung
adalah Sebuah Tantangan Petualangan", terbitan PT. Aya Media pada
tahun 1987. Ia memang telah mempopulerkan olah raga di alam bebas di
kalangan generasi muda lewat tulisannya di berbagai media massa, juga
melalui seminar dan berhasil menggerakkan mereka untuk kembali
mencintai alam, mengajarkan bagaimana menggiati dunia petualangan
yang baik dan sehat bagi remaja serta buku buah karya Norman itu juga
telah merembesi sekian banyak pecinta alam muda Indonesia.
Ia juga yang berambisi mengangkat nama Indonesia dengan program—Seven
Summit—mendaki serta mengibarkan Sang Saka Merah Putih di tujuh
puncak dari tujuh benua. Ia makin dikenal di dalam maupun luar
negeri. Perlu diketahui juga, bila sedang berkunjung ke luar negeri
Norman dan rekan-rekannya tak pernah jemu untuk selalu memperkenalkan
Indonesia ke negara yang dikunjunginya—terutama mempromosikan daerah
wisata di Indonesia. Empat puncak berhasil didaki secara spartan,
yakni puncak Carstensz Pyramide, McKinley, Elbrus, Kilimanjaro hingga
ekspedisi puncak benua yang ke 5, yakni gunung Aconcagua. Hingga
berita buruk itu pun, tersiar bahwa tim ekspedisi Mapala UI mengalami
musibah di gunung yang berada di Amerika Selatan, perbatasan Chile–
Argentina tepatnya. Tim Norman memang banyak mengalami kendala di
lapangan, hingga tersiar kabar yang lebih menyakitkan lagi. Bahwa
Didiek Samsu—salah seorang teman seperjalanannya—ditemukan dalam
keadaan tewas dan Norman dinyatakan hilang tak tahu
arahnya, hingga akhirnya diketemukan oleh pendaki Austria dalam
keadaan tewas, hanya 200 meter dari puncak Aconcagua!
Ia 'pergi' dengan damai bersama sahabat sejatinya—si Samson, Didiek
Samsu—meninggalkan segalanya, ia telah menyatu dengan alam yang
dicintainya. Kepala tertunduk dan air mata pun menetes mengiringi
kepergiannya. Ternyata merasa kehilangan itu tak hanya dimiliki oleh
keluarga mereka, Mapala UI atau teman-teman dekat mereka saja, tapi
kehilangan bagi seluruh penggiat alam bebas di segenap penjuru Tanah
Air. Indonesia pun kehilangan salah satu `pahlawan gunungnya' yang
cukup dikenal dunia. Tetapi jejaknya telah ia tinggalkan, berpenggal
kenangan ia berikan. Maka tak salah bila kita ingin mewarisi niat dan
semangatnya yang menggelora. Norman Edwin memang sosok yang pantas
untuk dikenal sekaligus dikenang. Waktu itu, hampir semua TV serta
surat kabar daerah dan nasional ramai memberitakan tentang musibah
yang mereka alami. Kisah hidup dan petualangannya menjadi kenangan
tersendiri dalam hati keluarga, Mapala UI dan rekan-rekan
sepetualangannya, serta dalam sejarah petualangan Indonesia.
Norman Edwin Petualang Indonesia.
on Senin, 22 Maret 2010
Label: Legenda
Salam Lestari!!!
Ia diketemukan tewas tertelungkup di bawah timbunan salju—tangannya
menggenggam erat kapak es dan seakan sedang menancapkan kapak es itu
guna menahan tubuhnya—ditutupi salju di ketinggian 6.700 meter, hanya
sekitar 200 meter dari puncak Aconcagua!
Kalimat di atas adalah cuplikan dari kalimat beberapa media massa—
bahkan media televisi—yang mengabarkan tewasnya seorang petualang
asal Indonesia, Norman Edwin, si Beruang Gunung. Kalangan pecinta
alam Indonesia pun disaput duka. petualang sejati yang paling handal
dan diandalkan juga paling kharismatis itu telah 'pergi' didampingi
sahabat sejatinya—si Samson, Didiek Samsu. Dia telah menyatu dengan
alam yang dicintainya. Kepala tertunduk dan air mata pun menetes
mengiringi kepergiannya. Seluruh media massa nasional
memberitakan `kepergiannya'. Tetapi jejaknya telah ia tinggalkan,
berpenggal kenangan ia berikan. Indonesia pun kehilangan salah
satu `pahlawan gunungnya' yang cukup dikenal dunia. Kisah hidup dan
petualangannya menjadi kenangan tersendiri dalam hati keluarga,
Mapala UI dan rekan-rekan sepetualangannya, serta dalam sejarah
petualangan Indonesia. Mungkin orang-orang yang belum kenal mereka
akan bertanya-tanya, siapakah Norman Edwin itu? Koq, berita
kematiannya begitu
menghebohkan, menggemparkan, sempat bikin sibuk dua kedutaan—
Argentina dan Chile? Menyibukkan beberapa orang menteri
bahkan `menggugah' perhatian Presiden Soeharto kala itu?
Norman Edwin, anak lelaki yang berdarah Palembang-Cirebon. Sejak
kecil dia sudah menyukai kegiatan yang berbau petualangan. Ketika
SMA, dia sudah beberapa kali melakukan pendakian gunung. Hingga
kegiatan pendakiannya makin menggila ketika ia bergabung dengan
Mapala UI. Bisa dikatakan, Norman hampir menguasai seluruh bidang
petualangan di alam bebas. Pada waktu itu dunia petualangan berupa
kegiatan mendaki gunung (hiking), panjat tebing (rock climbing),
telusur goa (caving), berlayar (sailing), arung jeram (rafting),
menyelam (diving) atau terjun payung. Dari semua dunia itu, hanya
diving dan terjun payung kiprah Norman tidak begitu santer
terdengar. Norman Edwin, si Beruang Gunung, petualang sejati yang
paling handal dan diandalkan juga paling kharismatis. Ia juga bukan
petualang karbitan yang heboh waktu berhasil mendaki sebuah gunung
setelah itu hilang lenyap, tak ada lagi berita aktivitas
kelanjutannya. Karena Norman itu orang yang konsisten dan disiplin.
Ia juga sosok yang
humoris, sekaligus `guru' yang rendah hati dan jadi idola sekian
banyak pecinta alam. Tak jarang ia diundang oleh perkumpulan-
perkumpulan pecinta alam untuk menjadi instruktur mereka, membagi
cerita dan pengalaman petualangannya. Atau kiprah nyata dia dalam
memimpin proses evakuasi, operasi SAR korban hilang di gunung. Ia
menjadi orang pertama yang mempopulerkan arung jeram serta telusur
goa di Indonesia. Ia juga menjadi satu-satunya orang Indonesia yang
memiliki sertifikat lisensi teknik penyelamatan goa dari Ameika
Serikat. Ia petualang Indonesia (pada masa itu) yang sudah merambahi
benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa, Australia, hingga daerah Alaska.
Norman juga tak hanya dikenal sebagai seorang petualang yang tangguh,
ia merupakan seorang yang piawai dalam dunia jurnalistik. Baik motret
atau pun membikin tulisan. Ia memang sempat jadi wartawan Mutiara,
Suara Alam dan Kompas. Belum lagi tulisan-tulisannya yang tersebar ke
berbagai media massa. Gaya tulisan Norman memiliki ciri khas yang
unik. Tulisannya yang jujur, tegas, terbuka dan berani dalam
mengungkapkan berbagai titik permasalahan. Dia selalu menuliskan
kejujuran, meski terkadang dianggap kontroversi. Tak perduli itu akan
membikin panas telinga beberapa pihak. Namun itulah yang mematangkan
dunia tulis menulis Norman. Norman tak hanya menceritakan berita
petualangannya saja yang lokal maupun internasional itu saja. Tapi ia
selalu menulis berita informasi yang lengkap dan dengan gaya tulisan
yang manis. Kadang ia juga menyelipkan nasehat cara-cara yang baik
untuk bergiat di alam bebas. Jadi tak melulu menceritakan
kegagahannya di alam bebas. Hingga ketulusan Norman dalam
memperkenalkan kegiatan alam bebas makin dipertegas dengan
menerbitkan sebuah buku karangannya yang berjudul "Mendaki Gunung
adalah Sebuah Tantangan Petualangan", terbitan PT. Aya Media pada
tahun 1987. Ia memang telah mempopulerkan olah raga di alam bebas di
kalangan generasi muda lewat tulisannya di berbagai media massa, juga
melalui seminar dan berhasil menggerakkan mereka untuk kembali
mencintai alam, mengajarkan bagaimana menggiati dunia petualangan
yang baik dan sehat bagi remaja serta buku buah karya Norman itu juga
telah merembesi sekian banyak pecinta alam muda Indonesia.
Ia juga yang berambisi mengangkat nama Indonesia dengan program—Seven
Summit—mendaki serta mengibarkan Sang Saka Merah Putih di tujuh
puncak dari tujuh benua. Ia makin dikenal di dalam maupun luar
negeri. Perlu diketahui juga, bila sedang berkunjung ke luar negeri
Norman dan rekan-rekannya tak pernah jemu untuk selalu memperkenalkan
Indonesia ke negara yang dikunjunginya—terutama mempromosikan daerah
wisata di Indonesia. Empat puncak berhasil didaki secara spartan,
yakni puncak Carstensz Pyramide, McKinley, Elbrus, Kilimanjaro hingga
ekspedisi puncak benua yang ke 5, yakni gunung Aconcagua. Hingga
berita buruk itu pun, tersiar bahwa tim ekspedisi Mapala UI mengalami
musibah di gunung yang berada di Amerika Selatan, perbatasan Chile–
Argentina tepatnya. Tim Norman memang banyak mengalami kendala di
lapangan, hingga tersiar kabar yang lebih menyakitkan lagi. Bahwa
Didiek Samsu—salah seorang teman seperjalanannya—ditemukan dalam
keadaan tewas dan Norman dinyatakan hilang tak tahu
arahnya, hingga akhirnya diketemukan oleh pendaki Austria dalam
keadaan tewas, hanya 200 meter dari puncak Aconcagua!
Ia 'pergi' dengan damai bersama sahabat sejatinya—si Samson, Didiek
Samsu—meninggalkan segalanya, ia telah menyatu dengan alam yang
dicintainya. Kepala tertunduk dan air mata pun menetes mengiringi
kepergiannya. Ternyata merasa kehilangan itu tak hanya dimiliki oleh
keluarga mereka, Mapala UI atau teman-teman dekat mereka saja, tapi
kehilangan bagi seluruh penggiat alam bebas di segenap penjuru Tanah
Air. Indonesia pun kehilangan salah satu `pahlawan gunungnya' yang
cukup dikenal dunia. Tetapi jejaknya telah ia tinggalkan, berpenggal
kenangan ia berikan. Maka tak salah bila kita ingin mewarisi niat dan
semangatnya yang menggelora. Norman Edwin memang sosok yang pantas
untuk dikenal sekaligus dikenang. Waktu itu, hampir semua TV serta
surat kabar daerah dan nasional ramai memberitakan tentang musibah
yang mereka alami. Kisah hidup dan petualangannya menjadi kenangan
tersendiri dalam hati keluarga, Mapala UI dan rekan-rekan
sepetualangannya, serta dalam sejarah petualangan Indonesia.
on Senin, 22 Maret 2010
Label: Legenda
Salam Lestari!!!
Ia diketemukan tewas tertelungkup di bawah timbunan salju—tangannya
menggenggam erat kapak es dan seakan sedang menancapkan kapak es itu
guna menahan tubuhnya—ditutupi salju di ketinggian 6.700 meter, hanya
sekitar 200 meter dari puncak Aconcagua!
Kalimat di atas adalah cuplikan dari kalimat beberapa media massa—
bahkan media televisi—yang mengabarkan tewasnya seorang petualang
asal Indonesia, Norman Edwin, si Beruang Gunung. Kalangan pecinta
alam Indonesia pun disaput duka. petualang sejati yang paling handal
dan diandalkan juga paling kharismatis itu telah 'pergi' didampingi
sahabat sejatinya—si Samson, Didiek Samsu. Dia telah menyatu dengan
alam yang dicintainya. Kepala tertunduk dan air mata pun menetes
mengiringi kepergiannya. Seluruh media massa nasional
memberitakan `kepergiannya'. Tetapi jejaknya telah ia tinggalkan,
berpenggal kenangan ia berikan. Indonesia pun kehilangan salah
satu `pahlawan gunungnya' yang cukup dikenal dunia. Kisah hidup dan
petualangannya menjadi kenangan tersendiri dalam hati keluarga,
Mapala UI dan rekan-rekan sepetualangannya, serta dalam sejarah
petualangan Indonesia. Mungkin orang-orang yang belum kenal mereka
akan bertanya-tanya, siapakah Norman Edwin itu? Koq, berita
kematiannya begitu
menghebohkan, menggemparkan, sempat bikin sibuk dua kedutaan—
Argentina dan Chile? Menyibukkan beberapa orang menteri
bahkan `menggugah' perhatian Presiden Soeharto kala itu?
Norman Edwin, anak lelaki yang berdarah Palembang-Cirebon. Sejak
kecil dia sudah menyukai kegiatan yang berbau petualangan. Ketika
SMA, dia sudah beberapa kali melakukan pendakian gunung. Hingga
kegiatan pendakiannya makin menggila ketika ia bergabung dengan
Mapala UI. Bisa dikatakan, Norman hampir menguasai seluruh bidang
petualangan di alam bebas. Pada waktu itu dunia petualangan berupa
kegiatan mendaki gunung (hiking), panjat tebing (rock climbing),
telusur goa (caving), berlayar (sailing), arung jeram (rafting),
menyelam (diving) atau terjun payung. Dari semua dunia itu, hanya
diving dan terjun payung kiprah Norman tidak begitu santer
terdengar. Norman Edwin, si Beruang Gunung, petualang sejati yang
paling handal dan diandalkan juga paling kharismatis. Ia juga bukan
petualang karbitan yang heboh waktu berhasil mendaki sebuah gunung
setelah itu hilang lenyap, tak ada lagi berita aktivitas
kelanjutannya. Karena Norman itu orang yang konsisten dan disiplin.
Ia juga sosok yang
humoris, sekaligus `guru' yang rendah hati dan jadi idola sekian
banyak pecinta alam. Tak jarang ia diundang oleh perkumpulan-
perkumpulan pecinta alam untuk menjadi instruktur mereka, membagi
cerita dan pengalaman petualangannya. Atau kiprah nyata dia dalam
memimpin proses evakuasi, operasi SAR korban hilang di gunung. Ia
menjadi orang pertama yang mempopulerkan arung jeram serta telusur
goa di Indonesia. Ia juga menjadi satu-satunya orang Indonesia yang
memiliki sertifikat lisensi teknik penyelamatan goa dari Ameika
Serikat. Ia petualang Indonesia (pada masa itu) yang sudah merambahi
benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa, Australia, hingga daerah Alaska.
Norman juga tak hanya dikenal sebagai seorang petualang yang tangguh,
ia merupakan seorang yang piawai dalam dunia jurnalistik. Baik motret
atau pun membikin tulisan. Ia memang sempat jadi wartawan Mutiara,
Suara Alam dan Kompas. Belum lagi tulisan-tulisannya yang tersebar ke
berbagai media massa. Gaya tulisan Norman memiliki ciri khas yang
unik. Tulisannya yang jujur, tegas, terbuka dan berani dalam
mengungkapkan berbagai titik permasalahan. Dia selalu menuliskan
kejujuran, meski terkadang dianggap kontroversi. Tak perduli itu akan
membikin panas telinga beberapa pihak. Namun itulah yang mematangkan
dunia tulis menulis Norman. Norman tak hanya menceritakan berita
petualangannya saja yang lokal maupun internasional itu saja. Tapi ia
selalu menulis berita informasi yang lengkap dan dengan gaya tulisan
yang manis. Kadang ia juga menyelipkan nasehat cara-cara yang baik
untuk bergiat di alam bebas. Jadi tak melulu menceritakan
kegagahannya di alam bebas. Hingga ketulusan Norman dalam
memperkenalkan kegiatan alam bebas makin dipertegas dengan
menerbitkan sebuah buku karangannya yang berjudul "Mendaki Gunung
adalah Sebuah Tantangan Petualangan", terbitan PT. Aya Media pada
tahun 1987. Ia memang telah mempopulerkan olah raga di alam bebas di
kalangan generasi muda lewat tulisannya di berbagai media massa, juga
melalui seminar dan berhasil menggerakkan mereka untuk kembali
mencintai alam, mengajarkan bagaimana menggiati dunia petualangan
yang baik dan sehat bagi remaja serta buku buah karya Norman itu juga
telah merembesi sekian banyak pecinta alam muda Indonesia.
Ia juga yang berambisi mengangkat nama Indonesia dengan program—Seven
Summit—mendaki serta mengibarkan Sang Saka Merah Putih di tujuh
puncak dari tujuh benua. Ia makin dikenal di dalam maupun luar
negeri. Perlu diketahui juga, bila sedang berkunjung ke luar negeri
Norman dan rekan-rekannya tak pernah jemu untuk selalu memperkenalkan
Indonesia ke negara yang dikunjunginya—terutama mempromosikan daerah
wisata di Indonesia. Empat puncak berhasil didaki secara spartan,
yakni puncak Carstensz Pyramide, McKinley, Elbrus, Kilimanjaro hingga
ekspedisi puncak benua yang ke 5, yakni gunung Aconcagua. Hingga
berita buruk itu pun, tersiar bahwa tim ekspedisi Mapala UI mengalami
musibah di gunung yang berada di Amerika Selatan, perbatasan Chile–
Argentina tepatnya. Tim Norman memang banyak mengalami kendala di
lapangan, hingga tersiar kabar yang lebih menyakitkan lagi. Bahwa
Didiek Samsu—salah seorang teman seperjalanannya—ditemukan dalam
keadaan tewas dan Norman dinyatakan hilang tak tahu
arahnya, hingga akhirnya diketemukan oleh pendaki Austria dalam
keadaan tewas, hanya 200 meter dari puncak Aconcagua!
Ia 'pergi' dengan damai bersama sahabat sejatinya—si Samson, Didiek
Samsu—meninggalkan segalanya, ia telah menyatu dengan alam yang
dicintainya. Kepala tertunduk dan air mata pun menetes mengiringi
kepergiannya. Ternyata merasa kehilangan itu tak hanya dimiliki oleh
keluarga mereka, Mapala UI atau teman-teman dekat mereka saja, tapi
kehilangan bagi seluruh penggiat alam bebas di segenap penjuru Tanah
Air. Indonesia pun kehilangan salah satu `pahlawan gunungnya' yang
cukup dikenal dunia. Tetapi jejaknya telah ia tinggalkan, berpenggal
kenangan ia berikan. Maka tak salah bila kita ingin mewarisi niat dan
semangatnya yang menggelora. Norman Edwin memang sosok yang pantas
untuk dikenal sekaligus dikenang. Waktu itu, hampir semua TV serta
surat kabar daerah dan nasional ramai memberitakan tentang musibah
yang mereka alami. Kisah hidup dan petualangannya menjadi kenangan
tersendiri dalam hati keluarga, Mapala UI dan rekan-rekan
sepetualangannya, serta dalam sejarah petualangan Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar